Janda Muda Diperkosa Minta Nambah, Eh Si Perampok Malah Minta Ampun

Sebelum Menggeleng…

Ada pepatah lama yang bilang, jangan coba-coba membangunkan macan yang sedang tidur kalau tidak siap dicakar. Si perampok amatiran ini rupanya kurang riset sebelum beraksi

Bacaan Lainnya

Malam itu, ia menyelinap masuk ke rumah seorang janda muda dengan napas memburu, mengira bakal menghadapi mangsa empuk yang hanya bisa memelas.

Dia sudah membayangkan skenario bajingan yakni menjarah harta, lalu menuntaskan nafsu jahatnya.

Begitu dia menodongkan senjata, dia merasa sudah jadi raja dunia. Dengan sok jago, dia membusungkan dada, memamerkan “ukuran” yang dikira bisa bikin sang janda bertekuk lutut.

Tapi, kenyataan menghantam lebih keras dari bogem mentah. Si janda muda, bukannya gemetar, malah menatapnya dengan tatapan meremehkan yang membuat nyali si perampok sontoloyo ini menciut.

Saat si janda justru maju mendekat, menanggalkan perlindungan dirinya dengan sengaja, si perampok malah kaget bukan kepalang.

“Katanya mau perkosa?”

“Kok loyo?”

“Sini, kalau punya nyali, ayo nambah lagi!”

“Masa cuma segini doang sudah mau meler?”

Tantang sang janda sambil tertawa kecil, suara yang terdengar lebih menyeramkan daripada raungan sirene polisi.

Mendengar tantangan itu, mental si perampok hancur lebur. Ukuran yang tadi dipamerkan sebagai senjata “XL”, mendadak menciut jadi “L”, lalu layu seketika seperti daun terkena pestisida.

Si perampok yang tadinya berniat jadi predator, sekarang malah gemetaran hebat, keringat dingin membanjiri wajahnya yang pucat.

Si janda, dengan gaya yang benar-benar nakal, mulai “menjujung” si sontoloyo itu, memainkan psikologinya sampai si perampok benar-benar merasa jadi pria paling hina di muka bumi.

Ia dipaksa berlutut, dipaksa mengakui kalau dia hanyalah pecundang yang tidak punya harga diri.

Endingnya? Si perampok yang tadinya ingin menjarah harta dan kehormatan, kini bersimpuh di kaki sang janda, merengek minta ampun seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Dia benar-benar habis dipermalukan.

Sang janda tidak perlu repot-repot melapor ke polisi, ia cukup membiarkan si perampok itu pergi dengan membawa “luka batin” yang tidak akan pernah sembuh.

Si sontoloyo itu lari tunggang-langgang keluar rumah tanpa celana yang benar, meninggalkan harga dirinya di lantai kamar sang janda.

Esoknya, si perampok itu dikabarkan demam tinggi, bukan karena penyakit, tapi karena trauma luar biasa akibat dipermalukan oleh seorang wanita yang ia remehkan.

Si janda? Dia hanya duduk santai di teras, menyesap kopi sambil menertawakan betapa menyedihkannya predator kelas teri itu.

Pelajaran buat semua pria sontoloyo, kalau tidak punya nyali besar, jangan coba-coba main api, apalagi kalau lawanmu adalah wanita yang punya harga diri setinggi langit.

Dunia ini memang panggung sandiwara, tapi bagi si perampok, malam itu adalah akhir dari karir kriminalnya yang memuakkan.

Penulis : Ibhe Ananda
Follow Berita pantau24jam.net di TikTok

Pos terkait