Oleh : Edy Mulyadi, Wartawan Senior
Hari ini, Selasa 16 Juni 2026, umat Islam memasuki Tahun Baru Hijriyah. Ucapan selamat berseliweran. Di grup-grup WA. Di berbagai platform media sosial. Poster dan spanduk bertebaran. Ceramah dan tausiyah bermunculan. Tentu saja, semua itu baik.
Namun ada satu pertanyaan yang sering luput: Mengapa umat Islam memiliki kalender sendiri, tapi hidup dengan arah yang ditentukan orang lain? Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari pembahasan. Hijriyah bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah simbol peradaban.
Menariknya, kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tidak pula dari turunnya wahyu pertama. Bahkan bukan dari peristiwa Fathu Makkah yang monumental.
Para sahabat memilih peristiwa hijrah sebagai titik awal sejarah umat. Mengapa? Karena hijrah adalah perubahan. Perpindahan dari tekanan menuju kekuatan. Dari posisi objek menjadi subjek. Dari umat yang diburu menjadi umat yang memimpin.
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Hijrah adalah perpindahan peran dalam sejarah. Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dizalimi, sungguh akan Kami berikan tempat yang baik di dunia. Dan sungguh pahala akhirat lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 41).
Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah bukan pelarian. Hijrah adalah jalan menuju kemuliaan. Sayangnya, semangat itu kini semakin pudar.
Umat Islam masih memiliki kalender Hijriyah. Tetapi kehilangan energi hijrahnya. Kita merayakan pergantian tahun. Namun enggan melakukan perubahan mendasar.
Indonesia adalah contoh yang menarik. Kita negara dengan populasi muslim terbesar ke dua di dunia. Masjid tumbuh di mana-mana. Umrah dan haji terus meningkat. Kajian Islam semakin ramai. Namun pada saat yang sama, ketimpangan ekonomi melebar. Korupsi tak kunjung sirna. Kekayaan alam dikuasai segelintir pihak. Utang negara terus bertambah. Generasi muda dicekoki budaya hedonis dan konsumtif. Pertanyaannya sederhana. Apakah ini kondisi yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya?
Momentum Evaluasi
Di tingkat global, keadaannya bahkan lebih mencemaskan. Dunia dipenuhi perang. Krisis pangan mengintai. Persaingan geopolitik semakin keras. Sistem ekonomi global berkali-kali terguncang. Negara-negara besar saling berebut pengaruh tanpa peduli penderitaan rakyat kecil.
Peradaban modern menjanjikan kemajuan. Tetapi gagal menghadirkan ketenangan. Teknologi berkembang pesat. Namun kecemasan manusia justru meningkat. Informasi melimpah. Tapi kebijaksanaan semakin langka. Kekayaan bertambah. Namun kepuasan hidup menurun.
Di tengah situasi seperti ini, Tahun Baru Hijriyah seharusnya menjadi momentum evaluasi. Bukan sekadar bertanya berapa umur kita. Tapi bertanya: ke mana arah perjalanan kita?
Rasulullah SAW bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)
Inilah makna hijrah yang sesungguhnya. Bukan hanya meninggalkan dosa pribadi. Tetapi juga berani meninggalkan cara berpikir yang salah. Berani mencampakkan budaya diam terhadap kemungkaran. Berani meninggalkan ketergantungan kepada kekuatan selain Allah.
Umar bin Khaththab RA, tokoh yang menetapkan kalender Hijriyah, pernah berkata:
“Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan menghinakan kita.”
Kalimat ini terasa sangat relevan hari ini. Banyak bangsa muslim memiliki sumber daya melimpah. Tetapi tidak memiliki kemandirian yang memadai. Banyak yang kaya secara alamiah. Tetapi miskin secara strategis. Banyak yang besar jumlahnya. Tetapi kecil pengaruhnya.
Karena itu, memasuki tahun baru ini, yang lebih penting bukan sekadar mengganti angka tahun. Yang lebih penting adalah menghidupkan kembali semangat hijrah. Hijrah dari ketakutan menuju keberanian. Hijrah dari ketergantungan menuju kemandirian. Hijrah dari sekadar menjadi penonton sejarah menuju pelaku sejarah.
Sebab sesungguhnya, kalender Hijriyah lahir bukan untuk mengingat perpindahan Nabi dari Makkah ke Madinah. Kalender Hijriyah lahir untuk mengingatkan umat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian berhijrah. Dan sejarah membuktikan, tidak ada peradaban besar yang lahir dari kenyamanan. Yang melahirkan peradaban adalah keberanian untuk berubah.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448. Semoga kita tidak hanya berganti tahun. Tapi juga berganti kualitas. Berganti arah. Dan berganti nasib menuju ridha Allah SWT. []
Jakarta, 16 Juni 2026






