Dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia, bulan Mei 1998 adalah panggung drama politik paling mendebarkan. Di tengah kepulan asap demonstrasi mahasiswa yang menduduki Gedung DPR/MPR, sebuah “tikaman” politik yang tak disangka-sangka datang dari dalam ring satu istana.
Harmoko, pria yang selama belasan tahun dikenal sebagai pengawal setia citra Presiden Soeharto, tiba-tiba muncul di depan kamera konferensi pers. Dengan suara tegas, ia meminta sang penguasa Orde Baru untuk mengundurkan diri.
Langkah ini membuat publik terperangah. Bagaimana mungkin seorang menteri yang dulu kesetiaannya seperti nadi—selalu memulai pengumuman pemerintah dengan kalimat ikonis “Atas petunjuk Bapak Presiden…”—bisa berbalik arah dalam sekejap?
Ternyata, di balik aksi berani yang dicap sebagai “pengkhianatan terbesar” oleh keluarga Cendana ini, ada deretan alasan mendalam dan akumulasi kekecewaan pribadi yang jarang dikupas tuntas. Berikut adalah fakta di baliknya!
1. Kekecewaan Terpendam: “Dibuang” dari Kursi Menteri Penerangan
Bagi Harmoko, posisi Menteri Penerangan bukan sekadar jabatan, melainkan panggung utama eksistensinya. Ia adalah sosok sipil pertama yang berhasil menjadi Ketua Umum Golkar (1993–1998) berkat jasanya mengontrol narasi media dan memenangkan pemilu lewat Safari Ramadhan.
Namun, pada pertengahan 1997, Soeharto mendadak menggeser Harmoko menjadi Menteri Negara Urusan Khusus—sebuah posisi yang dianggap tidak memiliki “taring” dibanding Departemen Penerangan. Banyak pengamat menilai, pergeseran ini mulai menggores loyalitas buta Harmoko kepada sang mentor politik.
2. Pupusnya Impian Menjadi Wakil Presiden
Sebagai Ketua Umum Golkar yang sukses mempertahankan dominasi partai beringin, Harmoko sempat digadang-gadang dan berharap bisa menduduki kursi Wakil Presiden mendampingi Soeharto untuk periode 1998–2003. Namun, realitas politik berkata lain. Soeharto justru menjatuhkan pilihan kepada B.J. Habibie. Pengabaian ini disebut-sebut menjadi puncak kekecewaan personal Harmoko terhadap Soeharto yang dinilai sudah tidak lagi mendengarkan masukan dari lingkaran setianya.
3. Tekanan Psikologis: Rumah Pribadi Ditarget dan Dibakar Massa
Saat badai reformasi memuncak pada Mei 1998, kemarahan rakyat tidak hanya mengarah pada Soeharto, tetapi juga kepada Harmoko yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPR/MPR. Di kampung halamannya, Surakarta (Solo), rumah pribadi Harmoko menjadi sasaran amuk massa dan dibakar hancur.
Ancaman nyata terhadap keselamatan diri dan keluarganya ini disinyalir menjadi titik balik psikologis. Harmoko sadar, jika ia terus pasang badan membela Soeharto, dirinya dan keluarga akan ikut hancur digulung arus revolusi rakyat.
Julukan “Brutus” dan Penolakan hingga Akhir Hayat
Keputusan Harmoko meminta Soeharto mundur dalam waktu 5 hari langsung memicu amarah faksi militer dan loyalis Cendana. Dalam rapat internal partai yang tegang, mantan Ketua Golkar Jakarta, Tadjus Sobirin, secara spontan meneriaki Harmoko dengan sebutan “Brutus!”—merujuk pada tokoh Romawi kuno yang menikam ayah angkatnya sendiri, Julius Caesar, demi menyelamatkan Republik.
Bagi Soeharto, tindakan Harmoko adalah luka batin yang dibawa hingga akhir hayat. Ketika Soeharto terbaring kritis di rumah sakit pada tahun 2008, Harmoko sempat datang berniat menjenguk dan menyambung silaturahmi yang terputus. Namun, dengan dingin dan tegas, pihak keluarga Cendana menolak mentah-mentah kehadiran sang mantan menteri penerangan tersebut di ruang perawatan.
Kisah Harmoko menjadi pelajaran berharga dalam sejarah politik tanah air: bahwa dalam puncak krisis kekuasaan, kesetiaan yang sedalam nadi sekalipun bisa luruh oleh kalkulasi politik, tekanan massa, dan kekecewaan yang tak tersampaikan.

Sumber: Wikipedia
#Harmoko #MundurAtasPetunjuk #Sejarah1998 #RezimOrdeBaru #PakHarto #KrisisMoneter #TragediMei98






