Sri Santi Bunga : Kontribusi Nyata Untuk Jeneponto, Tercampakkan Oleh Waktu

Oleh Sri Santi Bunga

Kontribusi Saya di Kabupaten Jeneponto: 12 Tahun Mengabdi, Berjuang, dan Dibikin cacat seumur hidup oleh pemerintah Jeneponto sendiri

Bacaan Lainnya

Saya menguasai 7 bahasa asing menjadi penunjang produk saya di jual di berbagai negara

Tahun 2012, langkah saya dimulai. Dengan tekad sendiri, saya merintis usaha dari nol, berjuang keras membangun sesuatu yang bermanfaat, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk lingkungan tempat saya tumbuh. Saya percaya, dengan berkarya, saya bisa ikut mengangkat derajat daerah saya.

Tahun 2013, saya perluas niat baik itu. Saya tidak hanya berpikir soal keuntungan usaha, tapi melihat ada banyak anak muda terlantar, anak jalanan, mereka yang tersesat dan salah jalan, tidak punya harapan dan pekerjaan.

Saya pun merangkul mereka, membina, melatih keterampilan, dan mengangkat mereka menjadi karyawan. Tujuan saya satu: mengurangi angka pengangguran, memberi mereka masa depan, dan menjadikan mereka manusia yang mandiri dan berguna.

Masih saja saya berdoa dan berusaha sekuat tenaga. Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya tetap bertekad menggaji anak-anak muda itu. Bukan sekadar memberi pekerjaan, tapi tujuan utamanya satu: menyemangati mereka, membangun kembali kepercayaan diri yang sempat hilang, dan meyakinkan bahwa mereka pun berharga serta mampu berkarya.

Semua biaya itu saya tanggung sendiri, murni memakai uang hasil keringat dan keuntungan dari usaha saya. Mulai dari kebutuhan bahan produksi, biaya operasional, makan sehari-hari, hingga gaji bulanan untuk mereka—semua saya penuhi tanpa minta bantuan atau sumbangan dari pihak mana pun.

Saya ikhlas mengeluarkan segalanya, karena saya tahu, setiap rupiah yang saya berikan bukan sekadar uang, tapi benih harapan untuk masa depan mereka.

Tahun 2015, jerih payah itu diakui secara luas. Saya meraih Juara Satu Pengusaha Muda Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Prestasi besar ini seharusnya menjadi kebanggaan Kabupaten Jeneponto. Namun kenyataannya pahit: saya tidak diizinkan mewakili kabupaten ini.

Padahal saya hanya meminta satu hal sederhana, sekadar tanda tangan dukungan, tapi ditolak mentah-mentah. Saya tidak berkecil hati, karena kemampuan dan karya saya sudah berbicara lebih keras daripada izin apa pun.

Tahun 2016, nama saya terbang lebih tinggi lagi. Saya melangkah ke level nasional dan meraih kemenangan gemilang: Juara Satu Best Bisnis Kreatif, serta penghargaan Best Bisnis Termuda. Di tahun yang sama, saya mendapat amanah besar, dilantik menjadi Ketua Biro Ekonomi Kreatif Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Ini penghargaan untuk diri saya, tapi juga potensi besar untuk membawa nama Jeneponto bersinar di kancah nasional.

Saya kembali pulang dengan membawa amanah dan semangat baru. Saya berjuang mati-matian memperjuangkan hak-hak anak muda di sini, menyuarakan potensi ekonomi kreatif yang bisa mengubah nasib banyak orang. Tapi lagi-lagi, tidak ada satu pun dinas atau instansi terkait yang peduli, tidak ada perhatian, tidak ada dukungan.

Karena tidak mau diam melihat potensi terbuang, saya kembali bergerak sendiri. Dengan biaya pribadi, saya adakan pameran besar karya anak-anak muda Jeneponto.

Selama satu minggu penuh, kami tampilkan hasil kerja keras mereka, saya perkenalkan karya mereka ke publik, dan berjuang mengangkat harga diri mereka. Pameran itu sukses besar, banyak mata tertuju dan mengakui kualitas anak-anak daerah ini—semua berkat usaha saya sendiri.

Berkat keberhasilan itu, banyak kabupaten lain mengajak saya pindah domisili, menawarkan fasilitas dan dukungan penuh agar saya berkarya di tempat mereka.

Namun, di lubuk hati yang paling dalam, saya tetap mencintai Jeneponto. Saya tidak pernah menyalahkan rakyat atau daerah ini, saya hanya kecewa pada cara pemerintahannya bekerja—atau tepatnya, tidak bekerja mendukung anak bangsanya sendiri.

Saya terus berjuang, berhasil mendatangkan investor dari luar negeri yang siap menanamkan modal dan membuka lapangan kerja di sini. Harapan saya tinggi, agar angka pengangguran makin berkurang dan ekonomi warga meningkat.

Tapi anehnya, keberhasilan ini pun tidak pernah membuat pemerintah setempat merasa bangga atau mau berterima kasih. Alih-alih dihargai, nama baik dan usaha saya malah dicacatkan, diremehkan, dan dianggap tidak berharga di tanah tempat saya berjuang mati-matian.

Hati saya yang lelah akhirnya memilih pergi. Saya merantau ke Bali untuk kembali berkarya, berharap bisa bernapas lega dan berkontribusi di tempat yang lebih menghargai. Namun, luka masa lalu ternyata belum usai.

Perlu saya tegaskan dan luruskan di sini: saya bukannya tidak mampu membayar BPJS Mandiri. Saya sangat mampu membayarnya, bahkan biaya yang saya keluarkan setiap bulan untuk menghidupi, menggaji, dan membiayai kebutuhan anak-anak binaan saya saja nilainya jauh lebih mahal dan besar dibandingkan ongkos BPJS atau KIS itu. Saya memakai fasilitas KIS itu bukan karena minta dikasihani atau minta bantuan semata.

Saya cuma berpikir dan merasa saya sangat layak untuk mendapatkan hak itu, karena itu adalah satu-satunya fasilitas dan penghargaan yang sempat saya nikmati dari Kabupaten Jeneponto sebagai orang yang sudah berkontribusi besar, mengabdi, dan berjuang membangun daerah ini bertahun-tahun lamanya.

Memang benar, saya dan keluarga saya terdaftar sebagai warga yang kurang mampu, dan kartu itu sudah ada sejak saya masih sekolah dulu. Tapi di mata saya, itu adalah hak saya sebagai warga yang sudah berbuat banyak.

Tapi hak milik saya itu, fasilitas yang seharusnya saya dapatkan, dinonaktifkan secara diam-diam, tanpa kabar, tanpa alasan, tanpa prosedur yang jelas.

Akibatnya, pada tanggal 2 Maret 2026 saat saya sakit parah dan butuh pengobatan krusial, saya kehilangan akses pelayanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak saya.

Penyakit saya tidak tertangani dengan benar, penanganan tertunda karena kendala biaya saat itu, dan akhirnya menimbulkan kerusakan permanen pada tubuh saya hingga saya menjadi cacat seperti sekarang.

Dua belas tahun saya berjuang, dua belas tahun saya berikan karya, tenaga, pikiran, dan biaya pribadi demi Jeneponto. Saya bangga pada apa yang sudah saya berikan, meski balasan yang saya terima adalah ketidakpedulian, penolakan, cacian, hingga tindakan yang merenggut kesehatan saya selamanya.

Tapi satu hal yang pasti: sejarah dan bukti karya saya tidak akan pernah bisa dihapus, meski pemerintahannya berusaha mengabaikan dan mencacatkannya. Saya Sri Santi Bunga, dan kontribusi saya untuk anak-anak muda dan ekonomi daerah ini adalah fakta yang tercatat abadi.

Susah memang kakau terlalu jujur ,yang ada di buang.

28 Mei 2026

Pos terkait