by M Rizal Fadillah
Empat kali bolak balik Perancis menimbulkan pertanyaan sepenting apa kunjungan intensif tersebut ? Biaya negara dihambur-hamburkan sesuka hati. Menlu Sugiono, dan Seskab Teddy bersama Presiden Prabowo seperti menjadi Three Musketeers karya Alexandre Dumas. Mereka Porthos, Aramis, dan Athos yang sangat berkhidmat pada Louis XIII di Paris.
Louis XIII raja lemah yang sangat tergantung kepada menteri utamanya Charles d’Albert, Duc de Luynes, dan Kardinal Richeliu. Meski lemah ia dan kelak puteranya Louis XIV menjadi peletak dasar dari kekuasaan absolut. Ucapan terkenal Louis XIV adalah “l’etat c’est moi”– Negara adalah aku. Kekuasaan absolut ini yang mendasari terjadinya Revolusi Perancis di masa kekuasaan Louis XVI. Revolusi berakar pada kesenjangan sosial dimana rakyat lapar dan Istana hidup bermewah-mewah.
Prabowo bolak balik Perancis menciptakan gambaran kemewahan. Menginap kembali di Hotel mahal Four Seasons George V Paris berbiaya menginap 5,8 milyar rupiah. Tiba Selasa bertemu Macron Kamis. Kesan berlibur sangat kentara karena agenda selama di Perancis tidak transparan. Kunjungan mendadak ini bertepatan dengan program “lempar batu sembunyi tangan” qurban 1098 ekor sapi APBN yang di dalam negeri menjadi kontroversial.
Melempar kotoran sapi kepada rakyat Indonesia khususnya umat Islam yang “harga” nya dinilai hanya 100 milyar saja. Sementara uang qurban itu hasil rampokan dari kas APBN. Para tokoh politik bahkan ulama membela mati-matian qurban Prabowo dengan dana APBN tersebut. Mereka terharu atas kebaikan Prabowo, lupa akan kemungkinan itu adalah lemparan kotoran sapi 1098 demi 2029.
Di Perancis cipika cipiki dengan Macron datang dan pergi. Jabat tangan dan pelukan hangat untuk menikmati jamuan santap malam di Les Salon des Potraits Istana Elysee Paris. Bincang bincang tentang segala hal. Dari cipika cipiki ini keluar instruksi Prabowo kewajiban sekolah di Indonesia untuk mengajarkan bahasa Perancis. Mungkin guru kelilingnya nanti diantaranya Didit Hediprasetyo putera Prabowo alumni berijazah asli Parsons School of Design Paris.
50 kali piknik luar negeri berbaju dinas dan 4 kali dalam waktu yang rapat ke Perancis bertemu Macron. Sesungguhnya, telah 5 kali dengan saat kunjungan Macron ke Indonesia, luar biasa hangat dan aneh. Bisa sampai tahap memuakkan mengingat pidato keras tentang penghematan dan kecaman pejabat yang sering kunjungan ke luar negeri. Kemunafikan nyata dari seorang yang bernama Prabowo.
Setelah berbagai program dalam negeri ambruk dan menggerus dana negara, Prabowo semakin menunjukkan ketidakbecusan dalam mengelola negara. Kunjungan terakhir yang romantis dan tidak strategis ke Paris membuat konklusi kuat bahwa Prabowo adalah Presiden yang memang butut.
Rakyat tidak bisa terus membiarkan.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 31 Mei 2026






