Baitul Mal Beda Dengan APBN, Ustadz

by M Rizal Fadillah

Mencari dalil (baca: dalih) pembenaran qurban Prabowo sejumlah 1098 ekor sapi dengan mengaitkan HR Bukhori yang menghukumkan sunnah menggunakan dana Baitul Mal bagi qurban Imam adalah berlebihan, tidak relevan, dan memaksakan.

Bacaan Lainnya

Prabowo tidak sedang berqurban 1098 ekor sapi. Ia hanya menyalurkan apa yang dalam nomenklatur anggaran disebut Bantuan Presiden. Dana APBN pos Kemensetneg.

Katib Syuriah PBNU KH Ikhsan Abdullah menyatakan 1098 ekor sapi yang dibeli dengan dana APBN dan disalurkan ke seluruh Indonesia tidak bisa dikategorikan sebagai qurban tetapi sedekah.

Ia menegaskan qurban sebagai perintah yang bersifat individual. Jadi tidak bisa itu disebut sebagai ibadah qurbannya Prabowo.

Prof Dien Syamsuddin mantan Ketum PP Muhammadiyah memiliki pandangan yang sama. Demikian juga dengan KH Jeje Jaenuddin Ketum PP persis. Di samping bersifat individual, qurban juga mutlak kegiatan keagamaan berbasis syari’ah. Penggunaan dana APBN tidak bisa disebut sebagai ibadah qurban, hanya semata bantuan negara.

Pembelaan Menteri Agama KH Nasaruddin Umar dan Ketua Komisi Fatwa MUI KH M Asrorun Ni’am Sholeh tentang kebolehan menggunakan dana APBN bagi qurban seorang Presiden dapat diperdebatkan.

Rujukan sirah nabawiyah mengenai dana qurban Kepala Negara dari kas Baitul Mal perlu diuji akan makna dan konteksnya. Lagi pula tidak begitu saja mudah menyamakan Baitul Mal dengan dana APBN.

Baitul Mal masa Nabi dan Khulafa’ur Rasyidin adalah bagian dari syari’at dalam konsepsi Negara Islam. Sumber pendapatan halal seperti zakat, infaq, shodaqah, jizyah, kharaj, fai, ghanimah. Untuk zakat jelas peruntukan (asnaf).

Domein pendapatan bukan beban apalagi paksaan atas rakyat, pengeluaran untuk syiar dikategorikan terendah.

APBN bukan berangkat dari konsepsi Negara Islam, tidak bersandar kepada syari’at, sumber pendapatan beragam tidak mengenal halal haram. Meski fungsi sama dengan Baitul Mal sebagai kas negara, tetapi substansi berbeda.

Tidak bisa dibandingkan dana qurban Baitul Mal dengan dana APBN. Qurban itu aturan syari’at yang bersifat personal bukan institusional.

Rosulullah SAW sibuk menyembelih sendiri hewan qurbannya. Ketika diniatkan untuk kaum muslimin beliau juga yang menyembelih. Ada hubungan emosional dan spiritual dalam ibadah qurban.

Jauh berbeda dengan 1098 hewan qurban Prabowo yang di hari Iedul Adha itu,  boro-boro menyembelih, malah “kabur” ke Paris bersama Teddy dan lainnya. Ketemu Macron sebentar lalu “berlibur”.

Empat hingga lima hari di Perancis. Mungkin foya-foya uang negara. Mulai dipertanyakan urgensi hingga 3 kali bolak balik Perancis 23 Januari, 14 April, dan 26 Mei. Dan tentu saja selalu dibersamai oleh pendamping setianya Teddy Indra Wijaya.

Kunjungan perayaan ulang tahun bulan April telah menuai fitnah soal hubungan spesial Prabowo dan Teddy. Kini hal itu diulangi. Film komedi romantis “Eiffel..i’m in love” bisa menjadi sindiran.

Paris adalah sorganya kaum LGBTQ, karenanya banyak klub dan bar gay lesbian disana. Ada Banana Cafe, Les Marronniers, Bear’s Den, Duplex Bar, Raidd Bar, Cox Bar, Les Souffleuses, La Mutinerie, Freedj, dan lainnya.

Perancis adalah negara yang melegalkan perkawinan sejenis. Emmanuel Macron sendiri pendukung dan pernah diramaikan selingkuh sejenis.

Wajar warga curiga pada perilaku Presiden nya. Qurban 1098 ekor sapi tanpa kejelasan dan pengawasan. Para pembela menyamakan Baitul Mal dengan APBN.

Dalam negeri sibuk berdebat, sementara Prabowo menikmati liburan di Perancis. Hari tasyrik adalah hari menjemur daging. Undangan Presiden Macron pas untuk menjadi alasan.

Apakah dua bulan ke depan Prabowo akan berkunjung lagi ke Perancis ? Wow.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 30 Mei 2026

Pos terkait