Remember 21-22 Mei 2019

Remember 21-22 Mei 2019

by M Rizal Fadillah

Bacaan Lainnya

Kerusuhan 21-22 Mei diawali dengan aksi kekecewaan atas Putusan KPU yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin atas Prabowo-Sandi yang dinilai curang. Curang karena Jokowi masih aktif sebagai Presiden sehingga mampu mengerahkan segala jaringan pemerintahan baik polisi, kementrian, tentara, dan birokrasi lainnya. Termasuk penggalangan dana pengusaha.

Penyimpangan dana yang berasal dari kas negara mampu dimanipulasi dan ditutupi. Sementara Prabowo pada saat itu hanya bersandar pada kekuatan partai dan relawan. Kondisi peperangan bagaikan Goliath melawan David. Pemerintah atau negara melawan swasta. Ini adalah politik licik Jokowi.

Kelicikan juga dilakukan dengan cara otak-atik angka memanfaatkan rekayasa lembaga survey. Akibatnya hasil akhir Jokowi-Maruf Amin 55,5 % sedangkan Prabowo-Sandi 44,5 %. Gugatan MK tidak ada artinya. Ketua MK 2019 Anwar Usman kelak menjadi suami Idayati mantan istri Hary Mulyono yang meninggal misterius konon karena stroke tahun 2018 di RSPAD. Skandal ijazah Jokowi dikaitkan dengan penggunaan data UGM adik iparnya Hary Mulyono tersebut.

21 Mei malam kesadisan Brimob Polri nampak luar biasa. Berujung pada tewas sekurangnya 9 pendemo dan 703 luka-luka. Pengusutan menghasilkan 10 anggota Brimob Nusantara menjadi tersangka. Hebatnya mereka hanya dihukum super ringan berupa pelanggaran disiplin dikurung sebentar, ditunda pendidikan dan kenaikan pangkat. Sesungguhnya terjadi pelanggaran HAM berat berdasar UU No 26 tahun 2000 dengan delik “crime against humanity”.
Kapolri Tito Karnavian bertanggungjawab atas pembiaran anak buah “crime by omission”.

Jokowi sebagai Presiden juga termasuk telah  melakukan kejahatan sistematis. Secara kumulatif bertanggungjawab di samping atas pembunuhan 9 orang pendemo dan penganiayaan 703 lainnya juga dengan tewasnya hampir 900 petugas Pemilu 2019. Presiden tidak memerintahkan pengusutan apa-apa atas kejadian yang mencurigakan tersebut.

Prabowo yang didukung habis dengan pengorbanan nyawa, tenaga, dan materi ternyata kurang memiliki rasa kepedulian. Ia lebih mementingkan dirinya sendiri, fokus pada peradilan MK abal-abal. Yang sangat menyakitkan justru Prabowo berkhianat dengan melacurkan diri bersedia untuk menjadi Menterinya Jokowi. Ini adalah karakter busuk yang sulit dimaafkan dalam politik dan moralitas.

Kini Prabowo telah menjadi Presiden dengan bantuan curang Jokowi. Dulu dicurangi, kini menjadi pelaku kecurangan. Karma sedang menunggu di depan. Darah pendukung yang tertumpah pada 21-22 Mei 2019 dan berlanjut pada 7 Desember 2020 di KM 50, akan membasahi wajah gemoy kepalsuan dari kepemimpinannya. Jabatan itu tidak membawa berkah.

Nah, remember 21-22 Mei 2019. Inilah hari monumental dari kejahatan Joko Widodo dan penghianatan Prabowo Subiyanto. Duo goro-goro.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 20 Mei 2026.

Pos terkait