Reformasi Jilid II Linier Atau Non Linier
by M Rizal Fadillah
WARNING
Reformasi Jilid II harus lebih mendasar atau meningkat baik perubahan dan kebaikannya di banding Reformasi 1998. Pemerintahan Prabowo bukan hanya tidak memberi harapan tetapi juga tidak tahu diri dan merusak. Melanjutkan kerusakan 10 tahun rezim Jokowi.
Tidak tahu diri bahwa kemenangan bersama Gibran itu tidak bersih alias curang, sehingga seharusnya tergambar kinerja pertobatan. Bukan justru seenaknya menikmati kekuasaan. Menafikan masukan dan sikap kritis.
Kerusakan kehidupan berbangsa dan bernegara sangat parah baik struktural maupun kultural. KKN dahsyat dan menggila, hukum dipermainkan, agama dipinggirkan, kemunafikan menjadi biasa, kesenjangan tajam, pengangguran meningkat, daya beli rakyat merosot, harga-harga naik, dan aparat menjadi penjahat. Birokrasi gemuk, boros, dan arogan. Oligarki pun absolut menjajah.
Perbaikan tidak bisa parsial dan gradual melainkan fundamental. Untuk itu kedaulatan rakyat harus terwujudkan dalam bentuk aksi atau gerakan rakyat semesta. Ini esensi dari tekanan reformatif. Hanya saja kini bukan reformasi pengulangan atau realisasi teori siklus, akan tetapi ada perubahan sigifikan dengan mengoreksi kelemahan sebelumnya.
PERUBAHAN LINIER
Selalu diawali dengan perubabahan pada level kepemimpinan. Berbeda dengan reformasi 1998 yang hanya menyebabkan Soeharto lengser, kini Prabowo dan Gibran keduanya satu paket harus dimakzulkan.
Lalu UUD 45 mengatur 1 (satu) bulan trium virat yang memegang kekuasaan yakni Menlu, Mendagri, dan Menhan. Setelah itu MPR memilih Presiden/Wapres definitif untuk menyelesaikan masa tugas Presiden dan Wapres yang telah dimakzulkan.
Tekanan rakyat yang sukses melakukan reformasi jilid II akan mampu mengawal pemilihan MPR untuk obyektif dan transparan sehingga kualitas keterpilihan relatif terjaga.
Gerakan reformasi dapat menekan pula agar MPR menyatakan kembali ke UUD 45 yang asli, membuat Tap-Tap MPR yang relevan, dan lain-lain keputusan yang sesuai dengan tuntutan reformasi.
PERUBAHAN NON LINIER
Gerakan rakyat kadang tidak terduga apalagi jika gumpalan besar mahasiswa, buruh, umat, ulama, purnawirawan, petani dan emak-emak bersatu.
Tidak akan puas pada kendali aturan perundang-undangan. Jika semua dilabrak atas dasar kekecewaan terpendam, maka perubahan dapat non linier. Tidak tertib sebagaimana tahap perubahan sosial pada umumnya. Bisa anomali dan acak.
Setelah Prabowo dan Gibran lengser, terbentuk kepemimpinan sementara apakah Presidium atau sejenisnya. Tugas utama yaitu menyelenggarakan pemilihan Presiden/Wapres dan Pemilu legislatif dengan penyelenggara Pemilu yang lebih representatif dan demokratis.
Penataan ekonomi, hukum, dan sosial segera dilakukan oleh Pemerintahan baru yang berkedaulatan rakyat. Oligarki ditumbangkan dan segera tutup jalan kebangkitannya. Hukum sekerasnya koruptor dan pengkhianat negara.
Penerintahan Prabowo Gibran sudah tidak ada harapan lagi. Gantungan BOP pada Trump dan Netanyahu adalah blunder tergemoy. Trump jatuh Prabowo runtuh. Balon mainan MBG akan meletus pada waktunya. Negara ini bukan hanya tidak baik-baik saja, tetapi ruwet dan sedang berjalan menuju ke ruang gelap.
Perbaikan tidak dapat parsial dan gradual.
Reformasi Jilid II ada di depan. Linier atau non linier.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 30 Maret 2026






