Bukan Klarifikasi Malah Komdigi Sakit Gigi
by M Rizal Fadillah
Setelah Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Prof. Dr. Amien Rais menyampaikan pandangannya soal Seskab Teddy Indra Wijaya pada Kamis 30 April 2026, lalu bu Menteri Komdigi Meutya Hafid melakukan Konpers dan membuat pernyataan resmi tertulis yang isinya menyatakan bahwa pandangan Amien Rais itu hoaks, fitnah, dan mengandung unsur kebencian.
Kemkomdigi menyatakan akan mengambil langkah hukum berdasarkan dugaan pelanggaran undang-undang ITE. Meutya Hafid menambahkan bahwa Amien Rais dinilai menyerang personal Kepala Negara.
Reaksi Komdigi ini bukannya klarifikasi malah sakit gigi. Main ancam Komdigi dapat memanaskan situasi atas kasus yang dinilai sensitif ini. Komdigi pun patut dikritisi.
Pertama, jika menyatakan hoaks, bagian mana yang berkonten hoaks tersebut. Jangan asbun dan menjillat bu Menteri. Komdigi ternyata tidak bisa berkomunikasi dengan jelas. Bermain di narasi abu-abu. Jadinya ya tuduhan palsu.
Kedua, Komdigi menuduh fitnah atas suatu peristiwa yang belum terbukti sebaliknya. Jika Amien Rais disebut memfitnah Teddy itu gay, buktikan dulu bahwa Teddy tidak gay, normal, dan berjiwa laki-laki. Bahwa Teddy itu Letkol Kopassus bukanlah bukti.
Ketiga, tidak terlihat ada nuansa kabencian justru sebaliknya yang ada rasa sayang untuk menjaga agar Istana tidak kotor dan Prabowo dapat selamat. Perlu dengarkan utuh, bu dan simpulkan dengan jernih bukan dengan prasangka atau benci.
Keempat, pak Amien Rais tidak sedang menyerang personal Kepala Negara, tapi mengingatkan akan bahaya Teddy bagi Kepala Negara. Teddy ini tentara kontroversial, lompat-lompat, bahkan terkesan kurang ajar.
Kelima, aspek moral yang menjadi concern. Pak Amin Rais mantan Ketum PP Muhammadiyah, mantan Ketua MPR, dan Ketua Majelis Syuro Partai Ummat. Ia bertausiyah atas dasar panggilan keagamaan. Hancur negara dan bangsa jika dipimpin oleh orang yang memiliki nilai moral atau keagamaan menyimpang.
Menkomdigi semestinya membantu dan membuka jalan bagi klarifikasi. Fitnah publik atas hubungan Prabowo Teddy telah lama terjadi. Jadi mari kita sama-sama hentikan. Solusi terbaik adalah jauhkan Teddy dari Prabowo. Andai tidak bisa, maka pandangan publik menjadi benar nantinya : “Jika cinta sudah mekekat, tai kucing pun terasa coklat”.
Indonesia jangan menjadi negara serba palsu. Sudah ijazah palsu, pangkat palsu, wapres palsu, masa harus ditambah lagi dengan kelamin palsu.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 2 Mei 2026






