JAKARTA – pantau24jam.net. Pasar keuangan dalam negeri hari ini tampak seperti bangsal rumah sakit. Saat “suhu” mata uang Garuda diukur, angkanya langsung membuat jantungan: rupiah kembali meriang hebat hingga mendekati level 17.700 per dolar AS.
Ironisnya, demam tinggi yang melanda rupiah ini terjadi justru tepat setelah klaim ekonomi kuat disuarakan dari mimbar kepresidenan, yang kini terbukti rontok digilas oleh pergerakan dolar yang kian hari kian menggila tanpa ampun.
Akibat “kesehatan” moneter yang mendadak kritis ini, Presiden Prabowo Subianto terpaksa mengambil tindakan darurat.
Sang kepala negara langsung memanggil dua “dokter spesialis” ekonomi, yakni Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (18/5/2026).
Keduanya dipanggil di tengah pelemahan rupiah yang semakin dekat ke level 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Suasana di lapangan turut memperlihatkan ketegangan di tengah tekanan kurs yang terus berlanjut.
Berdasarkan pantauan wartawan, Perry Warjiyo tiba di Istana sekitar pukul 16.00 WIB. Ia masuk ke area dalam Istana melalui gerbang “pilar” yang menghadap ke Jalan Juanda.
Perry memilih irit komentar dan tidak memberikan tanggapan terkait kehadirannya maupun kondisi rupiah yang melemah.
“Terima kasih, terima kasih, ya,” kata Perry saat memasuki gerbang Istana. Kalimat irit itu sewangi senyum pasrah, seakan tak punya resep obat instan untuk meredakan amukan Greenback.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang datang menyusul pun setali tiga uang, tampak kikuk digilas beban berat realita pasar ekonomi hari ini.
Purbaya enggan memberikan keterangan lebih lanjut mengenai tema rapat terbatas sore ini.
“Saya belum tahu, saya diundang saja nih. Nanti saja setelah pertemuan baru bicara ya,” ujarnya.
Pertemuan sore itu jelas bukan sekadar agenda minum teh biasa. Isyarat kepanikan Istana terlihat jelas dari panjangnya daftar absensi pejabat yang diseret masuk ke ruang rapat.
Selain Perry dan Purbaya, Prabowo juga mengundang sejumlah menteri Kabinet Merah Putih lainnya. Antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto.
Bagi Perry Warjiyo, kehadiran ke Istana hari ini merupakan yang kedua kalinya sepanjang bulan ini. Perry saat ini tengah menghadapi tekanan politik akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Di saat mata uang yang dijaganya makin meriang, Perry harus menerima kenyataan pahit digilas oleh tekanan politik dari Senayan.
Salah satunya datang dari Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PAN Primus Yustisio, yang mendesak Perry mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI dalam rapat kerja bersama Komisi XI dengan Bank Indonesia pada hari ini, Senin (18/5/2026).
Primus menilai, kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan anomali yang luar biasa ajaib sekaligus tragis.
Bagaimana tidak? Di atas kertas, data kinerja ekonomi menunjukkan pertumbuhan mencapai 5,61% pada kuartal I 2026, tetapi kurs rupiah justru babak belur digilas dolar.
“Menurut saya pribadi, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust dan menyampingkan kredibilitasnya,” ujar Primus dalam rapat bersama Bank Indonesia di DPR, Senin (18/5/2026).
Sebelumnya, tanda-tanda rupiah bakal meriang kronis sebenarnya sudah terbaca. Perry sebelumnya juga sempat dipanggil menghadap Prabowo ke Istana pada 5 Mei lalu ketika kurs rupiah menembus 17.400 per dolar AS.
Saat itu, ia hadir bersama Anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya, yakni Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Frederica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, dan Menteri Keuangan Purbaya.
Namun alih-alih sembuh, obat dari KSSK rupanya tak mempan menahan laju dolar yang menggila.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah hari ini akhirnya ditutup melemah 0,4% ke level 17.666 per dolar AS. Rupiah dibuka di level 17.628 per dolar AS dan sempat bergerak di rentang 17.627 hingga 17.684 per dolar AS.
Ironi Sentilan Dolar di Nganjuk vs Kenyataan di Istana
Kondisi rupiah yang makin meriang ini kian diperparah oleh tekanan eksternal seiring aksi investor melepas aset-aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang.
Namun, publik tidak bisa mengabaikan fakta bahwa “kesehatan” rupiah runtuh hanya berselang sehari setelah pernyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang terkesan meremehkan keperkasaan mata uang asing tersebut dengan dalih tidak berdampak pada warga desa. Sebuah narasi optimisme yang akhirnya mentah digilas realita.
“Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” kata Prabowo saat peresmian operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, dipantau secara daring melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (16/5/2026).
Dia lantas menuding pihak yang khawatir dan pusing terkait kurs rupiah adalah orang-orang yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Dia percaya ekonomi Indonesia dan fundamentalnya kuat.
“Orang mau billing apa, Indonesia kuat. Percaya pada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita,” ujarnya.
Sayangnya, kutipan penuh percaya diri itu kini berbalik menjadi satir. Logika bahwa orang desa tidak butuh dolar langsung digilas kenyataan pahit hari ini:
Saat dolar makin menggila di angka 17.666, tidak hanya kaum plesiran yang pusing, seluruh elite ekonomi kabinet pun ikut meriang dan harus buru-buru menghadap ke Istana Merdeka.
Editor : Id Amor
Follow Berita pantau24jam.net di TikTok






