Trias Kepemimpinan (Punggawa) Bugis: Napatiroang, Napuraga-raga, Napaampiri

Oleh: H. A. Ahmad Saransi

Narasi filosofi kepemimpinan Bugis ini mencerminkan keselarasan antara kearifan lokal (Pappaseng) dengan nilai-nilai kepemimpinan nasional yang kita kenal melalui ajaran Ki Hajar Dewantara.

Bacaan Lainnya

Dalam kebudayaan Bugis, seorang pemimpin (Ajjoareng atau Punggawa) bukan sekadar pemegang kuasa, melainkan sebuah pelita yang diletakkan di berbagai posisi strategis untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya. Filosofi ini merupakan manifestasi dari integritas yang terbagi dalam tiga peran utama:

1. ᨑᨗᨕᨚᨒᨚᨕᨗ ᨊᨄᨈᨗᨑᨚᨕ᨞
Rioloi Napatiroang (Di Depan Memberi Contoh)
Seorang pemimpin harus berada di garis depan sebagai Patiroang—pemberi petunjuk. Ia bukan sekadar pemberi perintah, melainkan sosok yang gerak-geriknya menjadi standar moral dan teladan bagi bawahannya. Layaknya seorang juragan dalam pelayaran Bugis kuno, ia adalah navigasi hidup yang menentukan arah di tengah badai, menjunjung tinggi kejujuran dan keberanian sebagai kompas bagi sesama.

2. ᨑᨗᨈᨛᨂᨕᨗ ᨊᨄᨘᨑᨁᨑᨁᨕᨗ᨞
Ritengngai Napuraga-raga (Di Tengah Membangun Karsa)
Ketika berada di tengah-tengah rakyat atau bawahannya, seorang pemimpin bertindak sebagai Paraga-raga. Ia tidak menciptakan jarak, melainkan berbaur dan menyatu dengan denyut nadi masyarakatnya. Di posisi ini, ia berperan membangun semangat (Karsa), merajut solidaritas, dan menjadi katalisator bagi ide-ide yang muncul dari bawah. Ia adalah perekat yang memastikan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin tetap hangat dan harmonis.

3. ᨑᨗᨆᨘᨑᨗᨓᨗ ᨊᨄᨕᨄᨗᨑᨗ᨞
Rimunri Napaampiri (Di Belakang Ia Membimbing)
Sebagai Paampiri, pemimpin yang berdiri di belakang berfungsi sebagai pelindung dan pendorong. Ia memantau, membimbing, serta memberikan motivasi agar pengikutnya berani melangkah mandiri. Ia menjadi jaring pengaman yang memastikan tidak ada satupun yang tertinggal atau tersesat. Di sinilah letak kearifan tertinggi: ia memberikan ruang bagi generasi penerus untuk tumbuh tanpa kehilangan pengawasan yang bijaksana.

Filosofi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Bugis adalah tentang adaptabilitas. Seorang pemimpin harus tahu kapan ia harus menjadi obor di depan, kapan menjadi kawan di tengah, dan kapan menjadi sandaran di belakang. Nilai-nilai ini pulalah yang dibawa oleh para perantau Bugis di seluruh penjuru dunia menjaga Siri’ (harga diri) dengan menjadi pemimpin yang “memanusiakan manusia atau memuliakan manusia” kata Prof. A. Mattulada.

#bugis #punggawa

Pos terkait