Tak Mampu Beli Alat Tulis Seharga 10 Ribu, Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Kemendikdasmen: Almarhum Penerima PIP

NGADA – pantau24jam.net. Seorang siswa SD di NTT, diduga bunuh diri akibat tekanan ekonomi. Kemendikdasmen mengungkapkan almarhum sudah terdaftar penerima PIP.

Tragedi kematian YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menjadi perhatian publik.

Bacaan Lainnya

YBS meninggal dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkih pada Kamis (29/1/2026).

Kementerian Sosial mengirimkan tim asesmen ke Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, untuk mendampingi keluarga dari siswa Sekolah Dasar berusia 10 tahun yang meninggal dunia dan diduga nekad mengakhiri hidup akibat keterbatasan ekonomi.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan belasungkawa bagi keluarga maupun pihak terdampak atas wafatnya siswa SD yang diduga bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat tekanan ekonomi di keluarganya.

Pasalnya, almarhum merupakan penerima Program Indonesia Pintar (PIP) yang seharusnya mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Namun almarhum diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli perlengkapan tulis seharga Rp10.000.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengatakan anak-anak yang lahir di ruang lingkup keluarga rentan tidak hanya mendapatkan dukungan finansial dari pemerintah, tetapi dukungan psikososial.

“Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan, tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata, melainkan harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif,” katanya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (5/2/2026).

Atip mengatakan kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks, di mana dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Menurutnya, peristiwa ini menjadi sinyal penting bagi seluruh pihak untuk menciptakan lingkungan yang menunjang tumbuh kembang anak.

Pasalnya, kata dia, keluarga dan satuan pendidikan memiliki peran sentral memberikan kesempatan bagi anak-anak mencurahkan kondisi emosional untuk mencegah tekanan psikologis.

“Satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka di mana setiap anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka, memperkuat kepedulian terhadap kondisi emosional anak, serta memastikan setiap anak merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai,” jelasnya.

Dia menuturkan bahwa saat ini Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi untuk mendampingi keluarga korban, serta menyasar keluarga lainnya guna memenuhi kebutuhan layanan sosial dan pendidikan.

Atip meminta seluruh pihak baik dari pemerintah hingga masyarakat memberi dukungan secara maksimal bagi anak-anak yang hidup di garis kemiskinan agar peristiwa tersebut tidak terjadi dikemudian hari.

“Kami mengimbau agar masyarakat lebih bijak mencerna informasi guna mencegah spekulasi yang berpotensi menambah beban psikologis bagi keluarga korban dan pihak sekolah,” ungkapnya.

Tim

Follow Berita pantau24jam.net di TikTok

 

Pos terkait