THE LAST SAMURAI Catatan pendek untuk SYL

Oleh : Armin Mustamin Toputiri

Hakim yang Mulia, Panji ini anak saya. Saya besarkan dia, dan jadi ajudan saya. Saya percaya dia, dan saya merasa anak ini selalu jujur pada saya.

Panji, kau lihat sini, saya SYL, saya ini bapakmu. Kau sudah lihat, kita lama bersama, kau pahami saya, tau karakter saya. Dan sampai terakhir detik ini, pun saya masih seperti itu.

Oleh karena itu, Panji, pertanyaan saya satu. Apa betul jawaban itu keluar dari hatimu yang setulus-tulusnya? Aku tidak persoalkan materi, aku siap. Kalau saya berbuat, saya berani bertanggung jawab….

***

Tiga paragraf kalimat pembuka catatan ini, saya kutip sepenggal dari ujaran SYL di hadapan persidangan PN Tipikor Jakarta, kepada ex-ajudannya dikala dulu menjabat Mentan RI, Panji Hartanto.

Menyaksikan video kala SYL mengemukkan kalimat-kalimatnya itu, saya yang meski tak lama berinteraksi dengan SYL, tau betul jika rangkai kalimat itu, itulah SYL dalam arti yang sebenar-benarnya.

Saya merasa lebih dari khatam untuk tau dab paham betul pada pilihan diksi, rangkai kalimat, intonasi, bahkan langgam SYL saat bertutur. Cara santai, lebih lagi saat serius. Rangkai susunan kalimatnya pada Panji, saya berani bertaruh jika SYL menyampaikan cara serius. “Saya tak nyangka”, kesal SYL pada Panji yang setega itu mulai mengkhiantinya.

***

Usai menyaksikan video saat SYL menutur kalimatnya pada ex-ajudannya yang telah dianggap anaknya sendiri, sekejap di benak saya melayang kisah pada suatu malam bersama SYL.

Malam itu, di ketinggian lantai 14 Hotel Kondotel Karebosi, SYL melanjutkan serial “Sambrol” [Santai sambil Ngobrol] bersama teman-teman pengurus Golkar Sulsel. Topik obrolannya, menerjemahkan pesan-pesan moral dari film “The Last Samurai” yang dibintangi Tom Cruise dan Ken Watanabe.

Meski, mungkin telah delapan tahun berlalu, tapi tetap saja kuat membekas dalam ingatan saya, berderet-deret pesan moral film The Last Samurai dinukilkan SYL pada malam itu. Mulai dari soal, bagaimana kesetiaan dan loyalitas orang-orang Jepang pada kaisarnya, pada pimpinannya, pada persahabatannya, menjadi inti kekuatan Bushido yang menjadikan Jepang tetap utuh dan tangguh.

SYL, juga mengingatkan bagaimana orang-orang Jepang mampu merawat tradisi dan budaya lokal sebagai jati diri dan harga diri setiap manusia dan setiap bangsa. Sekalipun itu, materialisme dan modernitas bertubi-tubi datang membentur. Tetap saja tak goyah.

Lebih jauh, SYL juga menyampaikan soal bagaimana sebilah pedang samurai, tak punya arti apa-apa jika berada di tangan seorang penakut, tak punya prinsip, apalagi pengkhianat. “Keunggulan sebilah pedang samurai, tidak terletak pada ketajamannya, tapi keunggulan sebilah pedang samurai, sangat ditentukan pada integritas pemegangnya”, tandas SYL.

***

Di tengah hiruk pikuk jelang Pilpres 2024, kala itu tarik ulur kepentingan politik sangat tinggi, SYL yang repsentasi berada Nasdem di kabinet, mau tak mau, ikut terseret dalam arus pusaran itu, berujung SYL jadi salah satu korbannya.

Yaaa, siapa pun tau, SYL hanyalah korban di tengah gajah besar yang sedang berantuk. Pun jika ada fakta-fakta lain yang kemudian menyeruak dalam persidangan PN Tipikor yang kini sedang berlangsung, publik pun juga tau jika yang sedemikianlah adanya, bumbu, ekses, dan residu, siapa pun pemilik sebuah jabatan tinggi di republik ini. Bahkan tak mustahil justru buah rekayasa dari pihak tertentu.

Tapi apapun itu, saya kira SYL masih tetap saja berselempang sebilah pedang samurai. Krtajaman pedang samurai dalam genggamannya bisa saja ditaklukkan oleh musuh-musuhnya, tapi saya meyakini jika SYL si pemegang samurai itu, tak semudah mereka taklukkan.

Dasarnya, SYL jadi pemimpin, hingga ke puncak tidak serta merta. Ia lahir dan hadir dari sebuah proses panjang, sejak mula dari akar-akarnya.

Tak lebih kurang, seperti dipertontonkan dalam film The Last Samurai, bagaimana seorang Samurai tangguh dihasilkan dari proses yang panjang. Tak hanya soal tata cara menggunakan pedang, tapi lebih dari itu, falsafah, integritas diri, sikap mental, kesetiaan, rasa cinta, kejujuran dan keberanian, serta rasa tanggung jawab seseorang untuk tiba di makom layak disebut seorang samurai.

Dan, rekam jejak SYL telah khatam pada perjalanan itu. Setidaknya, dapat direkam dan dicerna saat SYL mengajukan pertanyaan pada Panji ex-ajudannya. Dan, panji mestinya tau, jika kalimat SYL itu, lebih dominan “pernyataan” dibanding “pertanyaan”. Tapi, rupanya Panji terlanjur jauh dari spirit dimiliki para Bushido, kesetiaan dan loyalitas. Khianat itu aib.

Saya munutup catatan ini dengan mengutip ulang dua quote film The Last Samurai, dulu juga pernah diucap SYL di hotel Kondotel Makassar. Satu; “kekuatan seorang samurai, bukanlah pada kekuatan fisiknya, namu pada semangatnya yang tak tergoyahkan”. Kedua, “ciri sejati seorang samurai, bukanlah pada bekas luka sabetan di sekujur tubuhnya, tapi berada pada kebijaksanaan di sorot matanya”.

Makassar, 22 April 2024

Pos terkait