Satu Rangkaian Dua Kisah
Oleh : M. Dahlan Abubakar
Tidak puas dengan kedangkalan berita yang dibuat adik-adik wartawan Makassar berkaitan dengan kasus penculikan bocah perempuan, Bilqis Ramadhani (4), pada tanggal 2 November 2025, gejolak jurnalistik menggelora di dalam hati saya.
Saya bertekad bertemu dan mewawancarai tuntas sosok yang berperan dalam tim lapangan mengejar pelaku penculikan lintas pulau yang menghebohkan jagat maya dan tanah air itu.
Saya pikir, Tim “Operasi Bilqis” (TOB) Polrestabes Makassar yang dipimpin Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polrestabes Makassar AKBP Devi Sujana, S.H.,S.I.K, M.H. ini selain melaksanakan tugas memenuhi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Polri, juga bersentuhan dengan urusan kemanusiaan.
Menyelamatkan seorang anak dari aksi penculikan. Devi Sujana yang sejak 2023 bertugas di Polrestabes Makassar, memilih tim berkekuatan empat orang dengan Ketua Tim Lapangan Iptu Dr. Nasrullah, S.E.,M.H. Tiga orang lainnya, Ipda Supriadi Gaffar (Kasubdit Jatanras Polrestabes Makassar), Bripka Megawan Parante (Tim Jatanras Polrestabes Makassar) dan Briptu M. Aris (Anggota Jatanras Polrestabes Makassar).
Nasrullah, pria kelahiran Jeneponto 21 Juni 1987 ini dipercaya sebagai yang dituakan di dalam tim lapangan berkekuatan empat orang tersebut.
Devi Sujana memilih Nasrullah sebagai pimpinan tim lapangan selain karena pangkatnya lebih tinggi, Iptu, dan sebagai Kepala Satreskrim Polsek Panakkukang Makassar, juga sangat matang secara intelektual dan akademik.
Setelah berusaha mencari kemudian memperoleh nomor kontaknya pada rekan H.A.S. Kambie, Redaktur Harian “Tribun Timur” Makassar, saya pun mengontaknya.
Saya terlebih dahulu mempelajari biodata singkatnya. Nasrullah ternyata lulusan Doktor Ilmu Hukum Universitas Hasanuddin tahun 2025.
Pada saat mengirim pesan pendek melalui WhatsApp, tidak seperti biasa, saya menulis nama lengkap dengan gelar akademik segala. Ini penting agar Perwira Polisi ini maklum dikontak oleh seorang yang dia anggap bukan “kaleng-kaleng”. He…he…
Rabu (10/12/2025) saya ada agenda dengan Manajemen PSM Makassar yang sebulan terakhir ini cukup intensif berkomunikasi.
Hari itu, kami akan membesuk satu-satunya anak dari pesepak bola legendaris Indonesia kelahiran Sulawesi Setatan, Ramang, yang masih hidup, Hj Ratna Ramang. Kami berjanji bertemu pada titik kumpul di Store PSM Jl. Balai Kota Makassar.
Saya juga untuk pertama kali menyambangi toko PSM yang menyediakan jersey PSM, selempang, celana pendek dan sebagainya yang bermerek “PSM”.
Dari Store PSM itulah kami ke kediaman Hj. Nurjannah Anwar Ramang, tempat Hj.Ratna, bertempat tinggal dan mengisi sisa hari kehidupannya dalam keadaan kurang sehat serius. Selain membawa bingkisan dan memberi bantuan awal ala kadarnya,
Manajemen PSM juga mengusahakan bantuan lain dalam bentuk permanen untuk membantu keluarga pesepak bola legendaris yang pada tanggal 25 Agustus 2025 memperoleh Bintang Jasa Nararya dari Presiden Prabowo Subianto itu.
Saya memiliki hubungan emosional dengan keluarga Ramang ini karena pernah menulis biografi pemain yang oleh FIFA dijuluki sebagai “Inspirator sepak bola Indonesia tahun 50-an” ini.
Sejak buku pesepak bola yang dilahirkan di Barru 24 April 1928 (meninggal 26 September 1987) dicetak dan diluncurkan di Wisma Kemenpora Jakarta pada era Menpora Andi Alifian Mallarangeng, 9 Agustus 2011, jika ada pihak yang terkait dengan keluarga Ramang, saya pun selalu dikontak.
Begitu pun saat Menpora Roy Suryo yang ke Makassar membuka Musyawarah Provinsi KONI Sulsel pada tahun 2012, ternyata beliau berniat menemui keluarga Ramang. Waktu itu Anwar Ramang masih hidup (kemudian meninggal 8 Juni 2013), Prof.Dr.Faisal Abdullah yang menjabat salah satu deputi di Kemenpora mengontak saya.
Saya pun mengontak keluarga Ramang yang memang saya simpan nomor teleponnya, yakni Hj. Nurjannah, istri almarhum Anwar Ramang.
Ketika Ramang dianugerahi Bintang Jasa Nararya, ternyata tidak ada keluarga Ramang yang hadir ke Istana Negara menerima penghargaan itu. Saya pun mengontak Ibu Hj Nurjannah menanyakan perihal penghargaan tersebut.
Saya diberi tahu pihak-pihak yang pernah menghubunginya. Saya meminta dan melacak, siapa sebenarnya yang pernah mengontak keluarga Remang tersebut. Ternyata sebuah yayasan yang dipimpin oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Saya tidak menghubungi personil yang menghubungi Ibu Hj Nurjannah itu karena masalahnya sudah selesai.
Persoalan baru muncul. Yang mengurus penghargaan tersebut adalah personil di Sekretariat Militer Presiden. Saya pun memperoleh nomor yang pernah masuk ke ponsel Ibu Hj.Nurjannah.
Saya berkomunikasi dengan nomor itu. Seorang perempuan. Saya memperkenalkan diri perihal relasi saya dengan keluarga Ramang. Beliau paham dan meminta alamat lengkap dan juga nama yang dapat dikirimi tanda penghargaan tersebut. Alhamdulillah, tanda penghargaan tersebut sudah tiba di tangan keluarga Ramang dan saya sempat memotretnya saat membesuk Hj Ratna yang lagi sakit.
Habis membesuk, A.S.Kambie mengajak saya “ngopi rong” di Kantor Tribun Timur. Kebetulan sekalian salat asar juga. Usai salat kami berpindah duduk di halaman depan kantor media harian grup Kompas-Bosowa ini. Kebetulan pula ada Kepala Kantor Kementerian Haji Sulsel yang usai diajak bincang-bincang di Podcast Tribun Timur, mampir pula “ngopi bareng”.
Sambil menyeruput kopi sore itu, saya pun menengok gawai. Ada pesan singkat dari Iptu Dr.Nasrullah yang memberi tahu sudah di kantor.
“OK, tabe, saya OTW ke kantor ta,” saya membalas, kemudian minta izin kepada teman-teman Tribun Timur dan juga Pak Kepala Kantor Kementerian Haji Sulsel meninggalkan acara ‘ngopi bareng’.
Saya tiba di Kantor Polsek Panakkukang Jl. Pengayoman sekitar pukul 17.15 Wita. Setelah melapor ke piket dan menuju bagian belakang yang tampak ruang kantor terbuka, saya memberi tahu ingin beremu dengan Kanit Reskrim Polsek Panakkuang. Kedua petugas jaga itu selalu melontarkan kalimat yang tampaknya klise.
“Sudah janjian?”.
“Sudah,” jawab saya sebenarnya, walaupun saya berbohong mereka juga tidak tahu. Namun, apa untungnya mengatakan yang bukan sebenarnya. Hanya merusak citra dan integritas.
Ternyata Pak Nasrullah lagi menerima tamu dua orang. Namun pengantar menyilakan saya masuk.
Saya mengucapkan salam lalu menyalaminya. Nasrullah bertubuh atletis dan padat. Tingginya mungkin sekitar 180 cm, sehingga saya yang bertubuh 160 cm, terlihat sangat pendek saat berfoto bareng.
Saya lalu mengajaknya berbincang-bincang secara terperinci tentang perjalanan operasi melacak, mencari, menjemput, hingga membawa pulang Bilqis. Totalnya sekitar 50 menit perbincangan itu bergulir dan saya hentikan karena waktu salat magrib sudah tiba.
Hasil wawancara ini saya sudah susun untuk sebuah laporan jurnalistik sebanyak 15 halaman yang padat informasi. Beberapa informasi yang terungkap, belum pernah orang baca di media cetak, online, atau pun media sosial.
Tiga dari tujuh seri tulisan tersebut sudah dimuat di media online “NusantaraInsight.com”. Penasaran dengan apa yang saya tulis, boleh buka media online tersebut.
Pembaca pasti akan merasa ikut menyaksikan aksi-aksi TOB Polrestabes Makassar itu dalam melaksanakan aksinya membekuk para pelaku.
Siapa Nasrullah? Ayah empat ini termasuk hafiz, penghafal Alquran. Dia enam tahun belajar di pondok pesantren, SMP, dan SMA di Takalar. Tidak bercita-cita menjadi seorang anggota Polri saat dia bersiap menamatkan pendidikan di SMA di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Takalar, 40 km di sebelah selatan Kota Makassar.
Satu semester sebelum menamatkan pendidikan di SMA, Nasrullah sudah pamit pada orang tua. Hendak melanjutkan pendidikan ke Mesir. Setelah persiapan selama enam bulan di pondok pesantren melalui belajar malam yang ketat, dia melanjutkan pelajaran khusus dengan pembina-pembina pondok.
Yang didalaminya, mengenai ilmu-ilmu agama. Dari Ilmu Alquran, hadis, dan juga ilmu nahwu syaraf, yang akan berkaitan dengan pendidikan yang kelak diikutinya di Mesir.
Tiba-tiba, sebulan menjelang tamat di pondok pesantren, Nasrullah kedatangan seorang senior dan kakak kelasnya. Seniornya itu tiba-tiba muncul di pondok pesantren dengan seragam Polri.
“Saya langsung terinspirasi dari situ. Tiba-tiba saja saya meminjam baju senior itu dan mencoba memakainya di ruang marbot masjid. Cocok juga nih,” ungkapnya dalam podcast Berita Kota Makassar November 2025.
Akhirnya, Nasrullah kembali ke orang tua dan memberi tahu akan mencoba mendaftar sebagai anggota Polri. Orang tua pun mendukung. Nasrullah pun mencoba mengikuti jejak seniornya yang bertandang ke pondok pesantren sebelumnya.
Allah mengijabah ikhtiarnya. Pada kesempatan pertama dia lulus sebagai anggota Polri, hingga pada posisinya sebagai Kanit Reskrim Polsek Panakkukang saat ini.
Sebelum pamit, saya menyerahkan buku adik Hamdan Zoelva yang saya tulis berjudul “KOKOH DI PILAR KONSTITUSI” yang saya tulis tahun 2023 (cetak I) dan cetakan II tahun 2024. Saya menganggap Iptu Dr. Nasrullah, S.E.,M.H, sangat layak membaca buku itu berkaitan dengan tupoksinya.
Saya diantar keluar ruang kerjanya. Tak dinyana, saat berjalan beriringan, Iptu Dr.Nasrullah memberi tahu saya.
“Itu Ibu Kapolsek (Kompol Hj. Ema Ratna AR),” bisik Iptu Nasrullah.
“Selamat malam, Ibu Kapolsek!,” seru saya.
“Ya, malam,” jawab Perempuan yang pernah memimpin Unit Reskrim Panakkukang dan terlibat dalam penangkapan geng motor, pelaku penganiayaan pada Oktober 2025, didampingi Kanit Reskrim Iptu Dr.Nasrullah.
“Luar biasa, prestasi Polsek Panakkukang melalui Kanit-nya, Bu Kapolsek,” ujar saya.
“Alhamdulillah, terima kasih, izin saya lanjut dulu,” kata Kompol Hj Ema Ratna AR yang tampaknya memang sedang terburu-burut ke suatu tempat di lingkungan kantornya ketika saya “doorstop” (cakap/wawancara cegat/tanpa janji).
Berpulang
Kita sedikit kembali ke laptop. Sambungan cerita kedua. Di luar kemampuan manusia, Sabtu 13 Desember 2025 pagi, Hj Nurjannah menelepon saya.
“Pergi mi Adinda Hj Ratna,” katanya pendek, sambil menyampaikan terima kasih kepada saya yang sudah membawa Manajemen PSM membesuk almarhumah 10 Desember 2025 itu.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,” saya membatin setelah sambungan telepon terputus.
Hj Ratna, putri Ramang tersebut berpulang ke rakhmatullah, pukul 06.20 Wita. Manajemen PSM, rekan A.S.Kambie, dan saya sempat melayat.
Hj Ratna Ramang, satu-satunya anak mendiang pesepak bola legendaris Indonesia asal Sulawesi Selatan, Ramang yang masih hidup hingga, Sabtu (13/12/2025) subuh.
Pagi hari dia berpulang ke rarkhmatullah di kediaman iparnya Hj.Nurjannah Anwar Ramang, Jl. Andi Djemma Lorong 8 Nomor 2 Kelurahan Banta-Bantaeng, Makassar.
Jenazah almarhumah dimakamkan bakda asar. Diusahakan dapat dimakamkan berdekatan dengan makam kedua orang tuanya di di Pekuburan Islam Panaikang, Makassar. Jumat (12/12/2025) malam, sudah tidak bisa lagi dimandikan seperti biasa. Kondisinya sangat lemah. Ternyata Sabtu pagi, Hj Ratna pergi…
Almarhumah Hj. Ratna yang dilahirkan di Makassar 28 April 1948 merupakan anak kedua almarhum(ah) pasangan Ramang-Sarinah. Pasangan ini sebenarnya memiliki 7 orang anak, namun tiga orang meninggal.
Anak pertama meninggal selagi masih bayi saat terjadi pengeboman di Barru tatkala penjajahan Jepang. Anak ke-6 dan ke-7 meninggal dalam kandungan.
Rauf yang merupakan anak kedua lahir pada tahun 1946 dan meninggal 11 Januari 2014. Sementara H.Anwar Ramang anak ke-4 lahir pada tahun 1949 dan meninggal 8 Juni 2013. Arsyad yang berdomisili di Surabaya lahir pada tahun 1951 dan juga sudah meninggal dunia.
Ketiganya semua mengikuti jejak ayahnya, Ramang, sebagai pemain bola. Namun yang agak bersinar hanyalah Anwar Ramang yang sempat membela Timnas Junior saat melawat ke Filipina awal tahun 1970-an.
Sebelum tiga bersaudara ini meninggal, sempat melaksanakan reuni di kediaman almarhum H.Anwar Ramang pada tanggal 9 April 2011 yang juga saya hadiri yang kebetulan sedang menulis buku biografi ayah mereka,
Ramang. Buku tersebut terbit dengan judul “RAMANG Macan Bola”, pada tahun 2011 itu juga dan diluncurkan di Wisma Kemenpora Jakarta 9 Agustus 2011, bertepatan dengan acara buka puasa Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dengan tuan rumah Andi Alifian Mallarangeng, Menteri Pemuda dan Olahraga RI pada saat itu.
Ketika masih kuat berjalan Hj Ratna pernah dibawa mengontrol kondisi kesehatannya ke RS Faisal Makassar. Kontrol kesehatannya tidak dapat dilakukan lagi seiring dengan kondisinya yang tidak bisa lagi berjalan.
“Kakinya saja harus hati-hati dia gerakkan,” ujar Erwi Wahyuni Anwar, cucu Ramang
Pada saat kunjungan Manajemen PSM itu almarhumah masih bisa merespon suara orang di dekatnya, meskipun terus dalam posisi berbaring.
Di rumah mendiang H.Anwar Ramang, Hj. Ratna diurus oleh iparnya, Hj. Nurjannah yang tinggal bersama dengan putrinya yang juga sudah berumah tangga.
Di kamar, tempat dia berbaring, di dinding tergantung sebuah album foto yang berisi beberapa lembar foto yang digabung menjadi satu. Salah satu di antaranya di pojok kiri bawah, terdapat pasfoto mendiang ayahnya, Ramang saat masuk bermain bola.
Di atas bufet bersandar di dinding selatan rumah ruang tamu, tegak tanda penghargaan Bintang Jasa Nararya yang dianugerahi Pemerintah Republik Indonesia tahun 2025.
Mungkin juga Hj Ratna tak sempat melihat bintang jasa ini karena dia terus berbaring hingga akhir khayatnya di kamar dalam yang ada satu bingkai foto mendiang ayahnya.
Sabtu setelah menghembuskan napasnya yang terakhir, jenazahnya dibaringkan di ruang tamu. Bintang Jasa Nararya masih tetap “bersandar” di dinding selatan kamar. Seolah “memandang” jasad putri pemerima penghargaan itu yang jasad dan ruhnya berpisah tempat.
Inna lillahi wa inna lillahi rajiun. Satu keluarga generasi pertama dan kedua persepak bola legendaris nasional ini telah meninggalkan kita. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah swt. Amin.

Makassar, 13 Desember 2025






