Pembuat Buku “Islam Ala Prabowo” Masih Bungkam, Empat Tokoh Besar Bantah Jadi Penulis

 

JAKARTA – pantau24jam.net. Polemik buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo SubiantoMengamalkan Ajaran Islam kian memanas.

Bacaan Lainnya

Sejumlah tokoh besar yang namanya tercantum dalam buku tersebut justru memberikan klarifikasi bahwa mereka tidak pernah menulis naskah untuk buku yang mengulas praktik keislaman Presiden Prabowo Subianto itu.

Sedikitnya empat nama menjadi sorotan, yakni Yusril Ihza Mahendra, TGB Muhammad Zainul Majdi, KH Said Aqil Siradj, dan KH Muhammad Abdurrahman Kautsar alias Gus Kautsar.

Mereka memberikan penjelasan dengan kadar yang berbeda mengenai keterlibatan mereka dalam proses penyusunan buku.

Yusril, misalnya, menjelaskan bahwa dirinya memang pernah diwawancarai oleh tim penyusun. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya bukan penulis buku tersebut. Yusril juga mengaku tidak pernah melihat transkrip wawancaranya sebelum buku diterbitkan.

Sementara itu, TGB Muhammad Zainul Majdi menyatakan secara tegas bahwa dirinya tidak pernah mengirimkan tulisan untuk buku tersebut.

Pernyataan itu memperkuat pertanyaan mengenai bagaimana nama dan materi yang berkaitan dengan sejumlah tokoh bisa muncul dalam buku dengan posisi yang terkesan sebagai kontribusi penulis.

Nama Gus Kautsar juga menjadi perhatian. Pihak keluarga menyampaikan bahwa Gus Kautsar memang pernah diwawancarai, tetapi wawancara tersebut bukan berarti dirinya memberikan tulisan untuk diterbitkan sebagai karya dalam buku Islam Ala Prabowo.

Ia juga disebut tidak mengetahui bahwa hasil wawancara tersebut akan digunakan dalam buku tersebut.

Hal serupa mencuat dari nama KH Said Aqil Siradj. Namanya tercantum dalam buku, namun muncul keberatan mengenai pencantuman tersebut. Said Aqil bahkan disebut meminta agar peredaran buku dihentikan sementara untuk dilakukan pengecekan lebih lanjut.

Polemik ini kemudian memunculkan pertanyaan mendasar: apakah nama-nama tokoh tersebut dicantumkan sebagai penulis berdasarkan persetujuan mereka, ataukah terjadi kekeliruan dalam penyusunan dan pemberian kredit kepenulisan?

Pertanyaan itu semakin penting karena buku tersebut membawa nama sejumlah tokoh besar dan membahas sosok Presiden Prabowo.

Jika seseorang hanya diwawancarai, statusnya tentu berbeda dengan seseorang yang benar-benar memberikan tulisan sebagai penulis atau kontributor.

Hingga polemik ini mencuat, publik masih menunggu penjelasan dari pihak yang berada di balik penerbitan buku Islam Ala Prabowo.

Klarifikasi dari pembuat dan penyusun buku diperlukan untuk menjelaskan proses wawancara, penyuntingan, pemberian kredit nama, hingga persetujuan para tokoh yang namanya dicantumkan.

Tanpa penjelasan tersebut, polemik mengenai dugaan pencatutan nama sejumlah tokoh besar sebagai penulis akan terus menjadi tanda tanya.

Apalagi, buku yang mengangkat sosok Presiden Prabowo itu bukan sekadar publikasi biasa. Pencantuman nama ulama, tokoh politik, dan tokoh nasional sebagai penulis atau kontributor memberikan kesan adanya dukungan dan keterlibatan langsung mereka dalam isi buku.

Kini bola berada di tangan pembuat buku. Publik menunggu jawaban: siapa yang meminta tulisan, siapa yang melakukan wawancara, siapa yang menyusun naskah, dan atas dasar apa nama-nama tokoh tersebut dicantumkan sebagai penulis?

Tim

Pos terkait