Konawe Utara di Terjang Banjir, 400 Kendaraan Terjebak dan Beberapa Desa Terisolasi

KONAWE UTARA – pantau24jam.net. Banjir melanda Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara sejak Jumat (3/5). Kejadian ini dipicu intensitas curah hujan yang tinggi. Banjir mengakibatkan tujuh Kecamatan terdampak.

Sementara itu, Kepala Bagian Operasi (KBO) Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Konawe Utara Ipda Zulfikar, di Konawe Utara, Sabtu, mengatakan banjir bandang tersebut disebabkan oleh intensitas curah hujan yang cukup tinggi sehingga memicu banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar dua meter.

Saat ini pihaknya telah menurunkan 30 personel untuk mengamankan masyarakat dan kendaraan yang ingin melintasi daerah yang terjadi bencana banjir bandang di jalan Trans Sulawesi.

“Antrean kendaraannya sepanjang tiga kilometer”, ujar Zulfikar.

Kepala BPDB Konawe Utara, Sultra, Muh Aidin, menjelaskan terdapat dua desa terisolasi dikarenakan akses jalan tertutup banjir.

“Desa tersebut adalah Desa Padalere Utama yang berada di Kecamatan Wiwirano dan Desa Aseni Nunulai di Kecamatan Asera yang berada Konawe Utara,” katanya.

Khusus di Desa Padalere Utama yang berada di Kecamatan Wiwirano itu berada di bantaran Sungai Lalindu yang terdapat jembatan layang panjangnya sekitar 60 meter dengan lebar 1,5 meter yang dibangun pada tahun 2016 lalu.

Jembatan tersebut berada di atas Sungai Lalindu yang menjadi harapan satu-satunya akses ke permukiman warga saat ini dan masih tertutup luapan banjir.

“Data sementara yang kami terima, sekitar 94 kepala keluarga dengan 300 jiwa namun ada sebagian rumah tidak tersentuh banjir di daerah tersebut”, jelas Aidin. Ahad, 12/5/2024.

Kecamatan terdampak antara lain Kecamatan Langgikima, Kecamatan Landawe, Kecamatan Wiwirano, Kecamatan Oheo, Kecamatan Asera, Kecamatan Andowia, dan Kecamatan Molawe.

Sebagian warga Desa Aseni Nunulai di Kecamatan Asera yang berada dekat dengan Sungai Lasolo, memilih meninggalkan rumah mereka dan memilih mengungsi di perbukitan.

“Berdasarkan data yang diterima BNPB sebanyak 923 KK atau 3.121 warga terdampak. Sebagian warga mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat terdekat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara masih mendata jumlah warga yang mengungsi lainnya”, ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D.

Akibat banjir, sejumlah kerugian materil yang tercatat antara lain 729 unit rumah dan 327,7 hektar lahan pertanian dan perkebunan terendam.

Banjir juga berdampak pada beberapa prasarana umum seperti dua unit fasilitas ibadah terendam, satu unit jembatan terdampak, dan satu sekolah dasar di Desa Laronganga terendam.

Hingga Sabtu (11/5) akses jalan di Desa Sambandete, Kecamatan Oheo terendam banjir hingga ketinggian satu meter. Keadaan ini membuat akses mobilitas warga putus. Dua unit mobil tronton terbawa arus banjir yang cukup deras.

“Atas peristiwa ini, Pemerintah Kabupaten Konawe Utara menetapkan status tanggap darurat tehitung mulai 9-23 Mei 2024. Posko tanggap darurat didirikan di kantor BPBD Kabupaten Konawe Utara, Kelurahan Wanggudu, Kecamatan Asera”, urainya.

Upaya penanggulangan bencana terus dilaksanakan oleh BPBD Kabupaten Konawe Utara bersama dengan forkompimda setempat.

BPBD Konawe Utara menyiagakan enam tenda pengungsian dengan rincian lokasi antara lain di Desa Tambakua satu unit, Desa Sambandete dua unit, Desa Alawanggudu satu unit, Desa Puuwanggudu satu unit dan Desa Labungga satu unit. BPBD juga menyiagakan 10 unit perahu untuk evakuasi dan pendistribusian logistik.

Adapun kendala yang dihadapi tim gabungan saat ini adalah akses jalan Desa Sambandete yang sulit dilalui serta stok logistik yang menipis setelah disalurkan ke delapan desa terdampak.

“BPBD Kabupaten Konawe Utara terus bersiaga dan melakukan pantauan berkala mengingat adanya peringatan dini BMKG terkait cuaca di wilayah Sulawesi Tenggara hingga tangall 15 Mei 2024 masih berpotensi hujan ringan sampai lebat di kabupaten Konawe Utara”, pungkasnya.

Kondisi sebagian Konawe Utara saat foto udara

(*)

Pos terkait