Menghancurkan Istana Raja Sawit dan Perampok SDA NKRI

Hizbullah Indonesia:

MENATA KEMBALI REPUBLIK PROKLAMASI 1945: Langkah Pertama Adalah Memakzulkan Wowok-Gibran Dan Menumbangkan Rezim Hantu-Hantu Hidup Drakula-Drakuli…

Sri-Bintang Pamungkas

Banjir Sumatera kemarin memang menjadi puncak nyata dari kehancuran yang luar biasa besar berskala luas sebagai hasil dari berbagai kerusakan dalam ketatanegaraan yang sudah dimulai sejak lama, sejak Rezim Orde Baru mulai membangun. Meskipun begitu, kehancuran tersebut baru merupakan puncak dari Bom Gunung Es yang sewaktu-waktu bisa meledak, melumatkan dan membumihanguskan seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke… Yaitu, apabila Bom itu tidak dijinakkan dari sekarang…

Tidak ada Negara di Dunia ini, baik the Old Established Forces maupun the Emerging Forces sejak Soekarno-Hatta mengumandangkannya pada 1955, yang membiarkan seorang Penculik, Pembunuh dan Tidak Waras seperti Prabowo Subianto menjadi Kepala Negara. Sejak Konferensi Asia-Afrika 1955 itu, puluhan Negara Baru di Afrika muncul, merdeka dan berdaulat dengan melawan penjajahan dari para Kolonialis Barat.

Soekarno-Hatta, bahkan dikenal sebagai Bapak Kemerdekaan di sana. Dalam situasi kemerdekaan itu, usaha Mencerdaskan Kehidupan Bangsa menjadi semboyan untuk menumbuhkembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi demi mencapai Masyarakat Yang Adil dan Makmur… Sebagian dari mereka menjadi maju dan besar, sebagian lagi masih berproses dengan berbagai kendalanya.

Itu terjadi di seluruh Dunia Baru, tapi justru tidak terjadi di Indonesia sejak Orde Baru… Dalam buku yang saya tulis, Ganti Rezim Ganti Sistim (@2014) Bab satu ttg Soeharto saya beri predikat: Membangun Negara Melahirkan Para Naga; untuk Habibie: Menjadi Mangsa Naga Timur dan Barat; untuk Mega-GusDur: Membesarkan Naga Membelit Garuda; sedang untuk SBY: Menjual Ibu Pertiwi Dalam Pesta Para Naga. Tentu dengan segala Keterangan dan alasannya.

Maka dalam Episode berikutnya selama 10 tahun lebih, bisa disimpulkan Republik Proklamasi 1945 sudah berada di bawah cengkeraman habis-habisan para Naga Cina Oligarki seperti yang kita alami sekarang.

Oleh para Pemimpin Gombal berikutnya, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tidak mendapat tempat yang selayaknya, bahkan nyaris diabaikan dan disingkirkan oleh moral iblis Penguasa yang bekerjasama dengan para Naga Oligarki Cina dan Pengkhianat-pengkhianat berkedok Guru Besar, Doktor dan Insinyur… serta Asing!

Rezim Penguasa yang Tidak Waras bekerjasama dengan Asing dan para Taipan serta dibantu oleh para Drakula-drakuli dan Hantu-hantu hidup itu telah bersepakat menghancurkan Indonesia melalui perampokan terhadap Sumber Daya Alamnya. Hutan-hutan Tropis dan Minerba yang hampir tidak disentuh oleh Penjajah, kecuali Minyak Bumi dan Rempah-rempah, sekarang dijarah habis oleh Rezim.

Taipan-taipan Cina macam Antoni Salim, Teddy P. Rahmat, Sukanto Tanoto, Martua Sitorus, Frangky Widjaja, Fangiono Ciliandra dan Erick Thohir bersama Luhut Panjaitan, Abu Rizal Bakri dan Prabowo Subianto adalah sebagian saja dari Para Raja Sawit yang merambah Hutan Indonesia, yang mengakibatkan Banjir Sumatera kemarin. Si Koboi Ndeso Purbaya sudah hampir dipastikan tidak akan mampu “menciptakan” 200 trilyun Rupiah untuk menanggulangi akibat Banjir tersebut; tanpa bisa mengembalikan seribu lebih nyawa yang hilang.

Belum lagi terhitung Taipan-taipan yang mendapat perlindungan dan ijin dari Rezim yang merampok barang-barsng tambang dengan cara membabi buta macam Tomy Winata, Prayogo Pangestu, Syamsul Nursalim dan puluhan lainnya. Serta puluhan Taipan lain yang berkedok sebagai Pengembang, sepertu Ciputra, kelompok Sinar Mas, Summarecon, Agung Sedayu, Agung Podomoro yang juga menggusur lahan petani dan nelayan secara biadab, tetapi dilindungi Rezim…

Maka habislah Indonesia. Hanya dengan kembali memberlakukan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta menggulingkan Rezim Penguasa Antek-antek Asing sekarang, berikut mematikan usaha-usaha para Taipan Perampok Air, Bumi dan Kekayaan di Dalamnya, maka Rakyat, Bangsa dan NKRI bisa kembali Merdeka dan Berdaulat dari pengaruh Asing, untuk mencapai cita-cita Masyarakat yang Adil dan Makmur Lahir dan Batin, Aman dan Damai, serta Sejajar dan Terhormat di antara Bangsa-bangsa Di Dunia…

Jakarta, 20 Desember 2025
*@SBP*

Pos terkait