Kolonel.Inilahn Kisah Haru Jendral Wanita Pertama TNI- AD
Di lingkungan militer yang disiplin, tegas, dan hierarkis, pangkat adalah simbol kehormatan. Namun bagi Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Raden Ayu Kartini Hermanus, bintang satu di pundak bukanlah alasan untuk meninggikan diri. Ia justru menunjukkan bahwa kehormatan sejati lahir dari kerendahan hati.
Pada 1 Desember 2000, Kartini mencatat sejarah sebagai jenderal wanita pertama di lingkungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Sebuah tonggak penting yang memecahkan batas panjang dominasi laki-laki dalam struktur kepemimpinan militer darat Indonesia.
Namun kisah hidupnya bukan hanya tentang prestasi dan jabatan. Lebih dari itu, ia adalah potret harmoni antara karier gemilang dan kehidupan rumah tangga yang penuh penghormatan.
🌿 Melampaui Pangkat, Tetap Menjaga Adab
Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika Kartini resmi menyandang pangkat Brigadir Jenderal (Bintang Satu), sementara sang suami, Kolonel Infanteri Pieter Hermanus Van der Linde, menutup karier militernya dengan pangkat Kolonel.
Dalam struktur militer, selisih satu tingkat pangkat memiliki konsekuensi formal yang jelas. Namun ketika ditanya soal perbedaan pangkat itu, jawaban Kartini begitu sederhana sekaligus dalam:
> “Kalau di rumah ya tentu saya tetap hormat pada suami. Lagi pula dia kan sudah pensiun dari militer.”
Kalimat itu menjadi pelajaran berharga: jabatan adalah amanah profesional, tetapi penghormatan dalam keluarga adalah nilai yang tak tergantikan.
🔫 Pasangan Tangguh di Balik Layar Pertahanan
Sang suami bukanlah sosok biasa. Kolonel Pieter Hermanus Van der Linde dikenal sebagai salah satu perwira yang terlibat dalam pengembangan senapan serbu PT Pindad, termasuk varian yang kemudian dikenal luas sebagai SS2 senjata kebanggaan Indonesia yang berprestasi di ajang menembak internasional.
Pasangan ini menjadi simbol kolaborasi sunyi: satu memimpin dan membina prajurit di jalur strategis, satu lagi berkontribusi lewat inovasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Di balik keberhasilan Kartini meraih bintang satu, ada dukungan tulus seorang suami yang berjiwa besar.
🎓 Dari Mahasiswi Kedokteran ke Srikandi Militer
Lahir dari garis keturunan bangsawan Jawa terhubung dengan trah Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta Kartini tidak memilih jalan yang mudah. Ia sempat menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, sebelum akhirnya memutuskan mendaftar Sekolah Perwira Wajib Militer (Sepawamil) pada 1970.
Perjalanan militernya tidak ringan. Pada 1993, ia mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad)—lembaga pendidikan elite TNI AD. Dari 201 perwira peserta, hanya dua perempuan yang lolos, dan Kartini adalah salah satunya. Ketangguhan mental dan kapasitas intelektualnya membawanya kemudian menjabat Komandan Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat (Pusdik Kowad).
🌺 Warisan Keteladanan
Brigjen Kartini Hermanus wafat pada 24 Agustus 2021. Namun namanya tetap hidup sebagai pelopor bagi generasi Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) dan perempuan Indonesia pada umumnya.
Dari perjalanan hidupnya, ada tiga nilai besar yang bisa diwariskan:
Kompetensi — Bahwa perempuan mampu berdiri sejajar di level tertinggi jika dibekali disiplin dan kualitas diri.
Karakter — Kesuksesan profesional tak boleh menggerus keharmonisan keluarga.
Integritas – Lembut dalam sikap, tegas dalam prinsip.
Bintang di bahu hanyalah simbol jabatan. Tetapi rasa hormat, kesetiaan, dan kerendahan hati adalah simbol kemuliaan. Itulah jejak yang ditinggalkan Brigjen R.A. Kartini Hermanus seorang jenderal, seorang istri, dan seorang teladan.
#KartiniHermanus
#JenderalWanita
#TNIAD
#InspirasiPerempuan
#SrikandiBangsa
#Kowad
#TeladanKehidupan



