Mengapa 2026 Potensial Menjadi Tahun Kegetiran (Year Of Bitterness)
by M Rizal Fadillah
Pemerintahan Ptabowo yang bersemangat menjadi pelanjut rezim Jokowi tanpa koreksi adalah pokok kesalahan. Rezim baru tanpa semangat baru sangat naif dan aneh. Jokowi berhenti bukan sedang melesat ke atas tapi meluncur ke bawah. Kebodohan tingkat tinggi jika menjadi pelanjut tanpa reserve dari suatu kemerosotan. 1 tahun lebih masa kekuasaan Prabowo membuktikam kepikunan tersebut.
Setelah dilantik Oktober 2024, maka tahun 2025 adalah masa pembuktian untuk bacaan kemana arah ke depan. Ternyata Prabowo bukan pemimpin harapan tetapi pemimpin yang gagal dan sulit memiliki harapan. Pola penanganan masalah amatiran dan mengambang. Ketegasan berada di ruang ilusi dan omon-omon. Prabowo dinilai tidak mampu.
Empat alasan bahwa tahun 2026 potensial menjadi tahun kegetiran (year of bitterness), yaitu :
Pertama, tidak dapat membaca kekuasaan Ilahi. Ketika bencana banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar terjadi tidak sedikitpun perrnyataan atau sikap penguasa yang menampilkan adanya kesadaran spritual teguran Tuhan atas perilaku sewenang-wenang merusak alam dan kerakusan materiel. Teguran yang diabaikan akan memancing bencana berkelanjutan (continuous disaster).
Kedua, tidak mengakui kesalahan dan kelemahan. Tidak perlu jumawa dengan merasa mampu untuk mengatasi, fakta kesengsaraan rakyat setempat dahsyat dirasakan. Bagaimana memulihkan ?
Prabowo merasa bersih sebagai pemenang politik bersama Gibran. Lupa bahwa kemenangan diperoleh dengan curang atas bantuan Jokowi. Akan ada akibat dari kesetiaan pada kecurangan.
Ketiga, inkonsisten atau tidak satu kata dan kerja. Omong gede kerja kecil bahkan bisa tidak ada. Ciri ambivalensi adalah besar omong, ingkar janji, dan mengkhianati amanah. Reformasi Polri, IKN, banjir, Whoosh, hingga Morowali dijalankan dengan tidak ajeg. Rezim plin plan layak menuai kekecewaan bahkan perlawanan.
Keempat, bermain-main dengan hukum, moral, dan etika. Korupsi yang merajalela akibat sistem tidak bisa diatasi dengan semata agenda dan ampunan, harus fundamental dan revolusioner. Moral dan etika menjadi sokoguru perbaikan. Pemerintahan Prabowo gemar bermain-main dengan hukum, moral dan etika. Tahun berikut tinggal “siapa menabur angin, akan menuai badai”.
Tanpa tobat murka Ilahi berlanjut, rakyat yang dipinggirkan akan melawan, mahasiswa meledak karena dibungkam, tuntutan buruh tidak bisa diambangkan, santri dan ulama, emak-emak, purnawirawan, dan aktivis terus bergerak dan semakin bergejolak.
Sinyal bencana bukan hanya bamjir dan longsor tetapi juga kemarahan sosial. Tanpa sikap yang berubah sebagaimana kinerja sebelumnya, maka tahun 2026 adalah potensial menjadi tahun kegetiran.
Kiranya ayat-ayat Ilahi dibaca dan disikapi sebelum terjadi tragedi lagi.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 24 Desember 2025






