SD Bisa Jadi Presiden, Pak Professor ?

by M Rizal Fadillah

Awalnya tidak percaya ucapan ini disampaikan oleh seorang Professor, ahli hukum tata negara lagi. Tapi setelah ternyata hal itu  benar, maka rontoklah kepercayaan pada integritas dan tanggungjawab kenegaraannya.

Bacaan Lainnya

Jimly Ash Shiddiqie berkelas termul juga, maklum sudah tua mungkin. Jimly tidak shidiq lagi. Keangkuhan intelektual justru membawa kebodohan pandangan.

Fikiran sesat logika itu adalah ketika mantan Presiden atau Wakil Presiden kini gara-gara dimalahkan ijazahnya lalu gaduhlah dunia. Solusinya bukan yang menjadi penyebab gaduh yang diberi sanksi tetapi persyaratannya yang dihapus.

Ini sama saja ada tikus makan dan merusak gudang padi, bukan tikusnya yang dibasmi tetapi gudang padi yang dibakar. Yang bakar Jimly Ashshiddiqie. Professor pembela tikus.

Masyarakat dan bangsa Indonesia menghendaki kualitas moral, intekektual, dan modal sosial pemimpin negara itu meningkat. Bukan bersyarat minimal SLTA bahkan bagusnya S-2. Tingkat pembantunya saja banyak yang doktor dan professor. Jadi pandangan Jimly ini aneh, lulusan SD dapat menjadi Presiden, bahkan yang tidak bersekolah pun bisa. Ini sama saja dengan menistakan dunia pendidikan.

Presiden itu bukan hanya kerja tetapi juga kinerja. Ia adalah primus inter pares, orang yang terbaik. Teladan atau panutan, bukan bahan olok-olok tok de tok dan penganjur ibu minum asam sulfat. 10 + 2 = 13 atau 10 + 6 = 17. Jangan-jangan 0 + 8 = 9.

Jokowi dan Gibran sebagai sumber masalah tidak perlu dibela. Mereka telah menipu dan menzalimi rakyat. Saatnya rakyat memberi sanksi, termasuk Jimly. Makzulkan Gibran, tangkap dan adili Jokowi  adalah aspirasi. Agar ada pelajaran dan efek jera, tangkap dan adili Gibran juga. Negara tidak butuh pemimpin bodoh, pembohong, dan penjahat. Masa depan ada pada orang cerdas, pintar, bijak, bermoral dan beragama.

Indonesia negara besar, kaya, dan merdeka. Tapi sayang dipimpin oleh orang-orang yang bermental budak, bodoh, serakah, dan mengabaikan nilai-nilai moral. Mempermainkan konstitusi dan ideologi serta merekayasa hukum demi ambisi. Mereka iblis berwujud manusia. Manusia yang menjadi srigala atas manusia lainnya. Kekuasaan adalah senjata untuk kebanggaan diri dan pembantai rakyat yang tidak berdaya.

Begitulah manusia yang demi kekuasaan memalsukan ijazah dan menjadikan sekolah atau ruang kuliah sebagai jaringan mafia. Aparat dibayar agar ikut sebagai pelindung dan perekayasa. Sang raja asyik dengan permaisuri buatan ongkang-ongkang kaki tak peduli. Celaka negeri dipimpin oleh manusia serigala, ular, tikus, anjing, dan buaya.

Lalu kata sang cendikia palsu, ijazah itu tak perlu. Lulus SD bisa jadi Presiden. Memangnya Indonesia ini negeri boneka ? Eh iya konoha. Negara para dewa kumpulan korban narkoba. Yang mabuk dan gila.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 18 Oktober 2026

Pos terkait