Ketegasan Seorang Panglima: Ketika Jenderal Edi Sudradjat Menolak Perintah Presiden Soeharto

JAKARTA – pantau24jam.net. Edi Sudradjat dikenal sebagai sosok perwira yang disiplin, tegas, dan sangat memegang prinsip profesionalisme militer. Salah satu kisah yang paling sering dikenang dari perjalanan kariernya terjadi pada awal tahun 1990-an, ketika ia berani mengambil sikap yang tidak biasa: menolak melaksanakan perintah dari Presiden saat itu, Suharto.

Kisah ini diungkap oleh T. B. Silalahi dalam buku TB Silalahi Bercerita tentang Pengalamannya yang ditulis oleh Atmadji Sumarkidjo.

Bacaan Lainnya

Peristiwa tersebut bermula pada Maret 1993, ketika TB Silalahi yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal Departemen Pertambangan dan Energi ditunjuk oleh Presiden Soeharto untuk menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.

Sebagai bagian dari proses pengangkatan itu, Presiden meminta TB Silalahi menghadap Panglima ABRI sekaligus Kepala Staf Angkatan Darat saat itu, Jenderal Edi Sudradjat. Tujuannya adalah untuk mengurus pensiun dini dari dinas militer sekaligus kenaikan pangkat menjadi Letnan Jenderal.

Ketika TB Silalahi datang menemui Edi Sudradjat, proses pensiun dini langsung disetujui tanpa keberatan. Namun, persoalan kenaikan pangkat tidak serta-merta dikabulkan. Edi Sudradjat menjelaskan bahwa beberapa hari sebelumnya ia juga menerima perintah dari Presiden Soeharto untuk menaikkan pangkat dua menteri lainnya, yakni Ginandjar Kartasasmita dan Moerdiono, dari Marsekal Muda menjadi Marsekal Madya.

Namun perintah tersebut tidak ia jalankan. Bagi Edi Sudradjat, kenaikan pangkat dalam militer bukan sekadar simbol atau formalitas politik. Ia menilai bahwa kedua menteri tersebut sejak berpangkat Letnan Satu hingga mencapai pangkat jenderal bintang dua tidak pernah lagi menjalankan tugas aktif di lingkungan militer. Karena itu, menurutnya, menaikkan pangkat mereka tidak sesuai dengan prinsip profesionalisme dan tradisi di tubuh ABRI.

Sebaliknya, kondisi TB Silalahi dinilainya berbeda. Sebelum menjadi Sekjen departemen, TB masih aktif di militer dengan jabatan terakhir sebagai Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf Angkatan Darat. Meski begitu, Edi tetap berhati-hati dan tidak langsung memutuskan kenaikan pangkat tersebut.

Dalam bukunya, TB Silalahi menggambarkan sikap Edi Sudradjat sebagai tegas, kaku, dan sangat berpegang pada aturan, bahkan ketika keputusan itu menyangkut sahabat dan orang-orang yang dekat dengannya. Ketegasan ini menunjukkan karakter seorang panglima yang menempatkan profesionalisme di atas kepentingan lain.

Menariknya, sekitar dua tahun kemudian ketika posisi Panglima ABRI dipegang oleh Feisal Tanjung, pangkat Ginandjar Kartasasmita dan Moerdiono akhirnya benar-benar dinaikkan menjadi bintang tiga. Ironisnya, pangkat TB Silalahi yang berlatar belakang militer murni justru tidak ikut dinaikkan, meskipun Feisal Tanjung adalah teman seangkatannya di Akademi Militer Nasional tahun 1961.

Peristiwa ini hingga kini sering dijadikan contoh tentang keteguhan prinsip dan integritas seorang pemimpin militer, yang berani menjaga profesionalisme institusi meskipun harus berhadapan dengan kekuasaan tertinggi di negara.
Sumber : detik.xom

#EdiSudradjat
#Soeharto
#SejarahTNI
#ABRI
#TBsilalahi
#IntegritasPemimpin
#TokohMiliterIndonesia

Pos terkait