IHSG Melemah di Awal Pekan, Diduga Pasar Cermati Konflik AS-Iran

JAKARTA – pantau24jam.net. Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengawali perdagangan awal pekan di zona negatif pada Senin, 2/3/2026.

Pelemahan pasar saham dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik menyusul eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran.

Bacaan Lainnya

Mengacu pada data RTI Infokom, pada pukul 09.00 WIB IHSG dibuka melemah di level 8.092,90. Tak lama setelah pembukaan, tekanan jual berlanjut hingga mendorong IHSG turun 1,94% ke posisi 8.075.

Pada perdagangan pagi ini, tercatat 54 saham menguat, 580 saham melemah, dan 82 saham bergerak stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar IHSG tercatat sebesar Rp14.511 triliun.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut berada di zona merah. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dibuka melemah 2,44% ke level Rp7.000 per saham.

Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) juga tercatat turun 3,10% ke level Rp250 per saham. Adapun saham PT Petrosea Tbk. (PTRO) melemah 4,49% ke posisi Rp5.850 per saham.

Di tengah tekanan pasar, saham-saham berbasis komoditas dan energi justru bergerak menguat. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) melonjak 9,86% ke level Rp1.895 per saham.

Selanjutnya, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) naik 5,29% ke posisi Rp4.580, sementara saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) melesat 10,80% ke level Rp1.950 per saham.

Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai konflik AS-Iran menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan global seiring meningkatnya ketidakpastian, terutama terkait durasi dan potensi meluasnya konflik tersebut.

Namun demikian, Phintraco Sekuritas berpandangan sektor energi dan emas berpeluang diuntungkan, sejalan dengan kenaikan harga komoditas di tengah ketegangan geopolitik.

“Secara teknikal, jika IHSG menembus level 8.100 berpeluang menguji level 7.800-8.000. Namun peluang rebound terbuka jika sentimen global mereda dan domestik solid,” tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas. Senin, 2/3/2026.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati rilis sejumlah indikator ekonomi, mulai dari S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan Januari 2026, inflasi Februari 2026, hingga cadangan devisa Februari.

Selain itu, penurunan tarif dalam kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat dari 19% menjadi 15% dinilai berpotensi memberikan sentimen positif bagi sektor berbasis ekspor.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

Follow Berita pantau24jam.net di TikTok

Pos terkait